Banjir Cerai Setelah Ramadan

INDOPOS.CO.ID –  Angka perceraian di Kota Palembang, cukup tinggi. Perkara cerai gugat yang masuk ke Pengadilan Agama Kelas 1 A Palembang, per bulannya rata-rata lebih dari 100 laporan. Sementara perkara cerai talak, di angka puluhan setiap bulannya.

Bulan Juli 2016, perkara cerai gugat yang diterima mencapai 128 laporan, cerai talak 31 laporan. Sementara laporan dari semester pertama, masih menyisakan kumulatif pekerjaan rumah (PR) 332 cerai gugat dan 105 cerai talak. Perkara cerai hanya menurun di Juni, bertepatan dengn bulan ramadan. Cerai gugat 97 laporan, dan cerai talak 28 laporan. (lihat grafis).

Baca Juga :

Hakim Pengadilan Agama Kelas 1A Palembang, Drs H Musa Hasibuan MH, mengatakan faktor penyebab terjadinya perceraian 50 persen diakibatkan karena suami atupun isteri tidak bertanggung jawab. Mereka yang ditinggalkan suaminya hingga bertahun-tahun tanpa kabar, dan tidak memberikan nafkah lahir maupun bathin.

”Inilah banyak terjadi pada pasangan, akhirnya mengajukan gugatan cerai,” katanya, kepada Sumatera Ekspres. Berdasarkan laporan yang masuk sebagai penyebab perceraian, kata Musa, memang banyak kasus laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab.

Sebut saja, misalnya karena pernikahan karena kecelakaan (hamil duluan). Setelah dinikahkan, lalu diceraikan “Ada pula 30 persen karena narkoba, dan 10 persen disebabkan tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT),” sebutnya.

Bahkan tak jarang, ungkap Musa, ada yang datang untuk mengajukan mengajukan gugatan cerai kondisinya memprihatikan. “Masih ada bekas luka maupun tonjokan dari pasangannya. Biasanya ini dipicu keributan. Ada pula kasus perselingkuhan. Sebenarnya perceraian ini aib, tidak boleh digembar gemborkan,” tuturnya.

Selama ia bertugas di Pengadilan Agama Kelas 1 A Palembang yang berlokasi di Jakabaraing itu, Musai belum pernah menerima laporan pembatalan pernikahan. Yang biasanya isebabkan karena tidak sesuai aturan Islam dan tidak memiliki wali.

Pria asal Medan itu juga belum penah menangani kasus perceraian heboh seperti artis maupun kalangan pejabat. Karena di Metropolis rata-rata pasangan keluarga sederhana hingga kelas menengah ke atas.

Dijelaskan Musa, proses perceraian melalui berbagai tahapan. Paling lama putusan pengadilan keluar lebih kurang tiga bulan. Tapi jika banyak tuntutan dari salah satu pihak, bisa selesai hingga delapan bulan.” Misalnya istri meminta harta gono gini, atau biaya hidup anak yang hak kuasa asuh kembali kepada sang istri,” ujarnya memisalkan.

Tapi sebelum dilakukan sidang, pasti kedua belah melalui tahap mediasi. Namun jika salah satu pasangan tidak bisa hadir, maka akan dilanjutkan dengan proses persidangan. “Kami tetap mendorong mediasi terlebih dahulu, karena ini sangat penting untuk menyelamatkan rumah tangga mereka. Mungkin dari nasehat yang diberikan bisa damai,” harapnya.

Sementara itu, sebagai Panitera, Drs H Tapzani SH menambahkan, memang dilihat dari data jumlah kasus perceraian pada bulan Juni mengalami penurunan. Namun katanya sebenarnya itu bukan turun, karena dilihat dari awal Juli saat kantor buka kembali setelah libur Lebaran Idulfitri, jumlahnya membeludak.

Mungkin ketika akhir Ramadan pasangan yang akan mendaftarakan gugatannya malas datang karena waktu pelayanan dipercepat. Kalau menurut Undang-Undnag Perkawinan No 1 Tahun 1974 Perkawinan adalah Ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai Suami-Isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Untuk itu, ia mengimbau kepada pasangan yang akan melaksanakan pernikahan hendaknya sesuai yang dikehendaki UU mulai dari usia pernikahan, niat, dan rencana kedepan untuk kedua pasangan. Dengan usia yang cukup matang pemikiran mereka akan lebih baik sehingga bisa menyelesaikan permasalahan yang terjadi tanpa mudah mengucapkan kata cerai. (uni)


loading...

Komentar telah ditutup.