Alexa Metrics

BKPM Stop Investasi Semen

BKPM Stop Investasi Semen

INDOPOS.CO.ID-Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) meminta pelaku industri semen tidak menambah investasi. Pasalnya, produksi semen nasional kelebihan pasokan (oversupply). Kondisi itu, diperparah dengan perosotan permintaan. ”Sebaiknya, investor berinvestasi pada sektor lain dan mengalihkan penanaman modal dari industri semen,” imbau Kepala BKPM Thomas Lembong.

Berdasar data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), kapasitas industri semen nasional saat ini tercatat 92 juta ton per tahun. Sedang kebutuhan nasional tercatat 62 juta ton per tahun atau 67,39 persen dari total produksi semen. ”Ada sejumlah sektor overcapacity dan oversupply,” imbuh Thomas.

Thomas ragu, kalau investasi industri semen memiliki tingkat pengembalian atau hasil investasi menarik. Itu berkaca pada kinerja sejumlah perusahaan semen raksasa mengalami penurunan pendapatan pada semester pertama tahun ini. Trash misalnya, dua pemain utama di pasar semen PT Semen Indonesia (SMGR) dengan pangsa pasar 41,7 persen dan PT Indocement Tunggal Perkasa (INTP) dengan pangsa pasar 26,6 persen.

Pada semester pertama 2016, pendapatan indocement anjlok 14,63 persen menjadi Rp 7,74 triliun dari sebelumnya Rp 8,87 triliun. Sementara, pendapatan Semen Indonesia turun tipis 1,36 persen menjadi Rp 12,47 triliun dari Rp 12,64 triliun. ”Jadi, investasi pabrik semen mulai tidak menguntungkan,” tegas Thomas.

Di samping semen, Thomas juga meminta pelaku industri pengolahan karet tidak menambah kapasitas. Sebab, kapasitas pabrik karet telah melampaui produksi. Dengan begitu, tidak mampu menampung bahan baku. Investor sektor ini kalau masih mau menanam modal tentu masih bisa karena belum ada larangan kebijakan.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyayangkan langkah tersebut. Itu karena negara seharusnya tidak menghalangi aliran investasi masuk. Kelebihan suplai saat ini bersifat sementara. Sebab, proyek infratsruktur pemerintah beberapa waktu ke depan akan meningkatkan permintaan semen.

”Mungkin saat ini pasokan berlebih. Tetapi, dengan pertambahan penduduk, pertumbuhan infrastruktur, perumahan hingga jalan-jalan nantinya akan meningkatkan permintaan,” tegas Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono. (far)



Apa Pendapatmu?