Alexa Metrics

Profit Taking Rusak Pola Indeks

Profit Taking Rusak Pola Indeks

INDOPOS.CO.ID-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terancam aksi profit taking. Aksi ambil untung itu sekaligus merusak irama penguatan Indeks beberapa hari terakhir. Memaksa Indeks untuk sementara rehat untuk melenggang menuju level 6.000 poin.

Indeks tersungkur 18 poin (0,34 persen) menjadi 5.440. Pelemahan Indeks membuat nilai tukar rupiah kembali tertekan. Rupiah terpangkas 3 poin (0,02 persen) menjadi Rp 13.127 per dolar Amerika Serikat (USD). ”Belum ada sentimen negative. Ini koreksi menyergap Indeks murni aksi ambil untung,” tutur Analis Lauthandana Securindo Krishna Dwi Setiawan.

Depresiasi Indeks tidak dipengaruhi gerak bursa global dan regional. Sebab, tidak ada tanda-tanda negatif dari eksternal. Pemodal, melihat situasi pasar telah mengalami apresiasi dan saat tepat mengakumulasi keuntungan. Profit taking melanda saham-saham dengan apresiasi signifikan seperti Semen Batu Raja (SMBR), Gudang Garam (GGRM), United Tractors (UNTR), Bank BRI (BBRI), dan Astra Internatinal (ASII).

Dwi menilai, koreksi masih akan berlangsung dalam jangka pendek. Aksi para pemodal itu, diyakini tidak bakal membuat Indeks jatuh lebih dalam. Artinya, koreksi Indeks masih dalam tahap wajar dan terbatas. Pelaku pasar cenderung melakukan jual mengingat sejumlah saham telah mengalami kenaikan harga lumayan tinggi. ”Kemungkinan investor mengincar saham-saham dengan harga belum menanjak tinggi,”ulasnya.

Perilaku selektif dilakukan trader untuk menghindari saham-saham tidur. Tidak likuid dan tidak didukung fundamental memadai serta citra kurang baik. Dengan begitu, investor bakal memburu saham-saham seperti Ciputra dan Alam Sutera dengan harga belum naik signifikan. ”Jadi, besok akan menjajal titik tertinggi di kisaran 5.476 dan level terendah 5.420,” tegas Dwi.

Analis Asjaya Indosurya Securities William Suryawijaya menyebut pola gerak Indeks masih berpotensi melanjutkan penguatan. Itu ditunjukkan capital inflow masih berlangsung dan kondisi ekonomi stabil. Hanya, harga komoditas belum stabil memberi sedikit pengaruh terhadap Indeks. ”Saya amati koreksi Indeks masih wajar. Dan, kali ini akan kembali menguat,” tambah William.

Indeks bilang William akan mencoba level support 5.404 dengan target resistance 5.500. Posisi 5.500 potensial untuk dijebol dalam beberapa waktu mendatang. Sejumlah saham laik koleksi antara lain Perusahaan Gas Negara (PGAS), Unilever (UNVR), Indofood Sukses Makmur (INDF), London Sumatera Plantation (LSIP), Bank Negara Indonesia (BBNI), Astra International (ASII), Mayora (MYOR), Pakuwon Jati (PWON) dan Alam Sutra (ASRI).

Berdasar data perdagangan, kemarin investor membukukan transaksi Rp 8,78 triliun dengan volume 8,90 miliar saham. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi beli bersih (net buy) Rp 506 miliar. Sebanyak 139 saham naik, 170 saham turun, dan 100 saham tidak bergerak. Sebanyak tujuh dari sepuluh sektoral melemah. Pelemahan terbesar dialami sektor aneka industri dengan defisit 1,93 persen.

Mayoritas indeks saham Asia bergerak menguat. Kondisi itu ditunjukkan indeks Nikkei225 Jepang naik 0,69 persen, indeks Kospi Korsel surplus 0,62 persen, dan indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,13 persen. Sebagian besar indeks saham Eropa bergerak menguat sejak pembukaan Indeks FTSE100 Inggris naik 0,33 persen, indeks DAX Jerman menanjak 0,56 persen, dan indeks CAC Perancis bertambah 0,47 persen. (far)



Apa Pendapatmu?