Harga Avtur Tak Bisa Dibandingkan Negara Lain

 

INDOPOS.CO.ID – Harga Avtur Pertamina sebenarnya lebih murah dibandingkan harga yang terpublikasikan. Sebab, Avtur diperdagangkan menurut norma bisnis, sehingga harga yang di-publish sebagai harga retail akan berbeda-beda setelah maskapai penerbangan membuat kontrak berlangganan dengan perusahaan minyak. ”Perbedaan tersebut bisa sampai 5 persen lebih murah, tergantung besarnya volume dan cara pembayaran,” kata Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim, kemarin.

Dia mengatakan, secara umum struktur harga Avtur terdiri atas biaya produksi, biaya distribusi, biaya layanan, dan margin.  Khusus biaya distribusi, karena Indonesia adalah negara kepulauan maka channel of distribution-nya sudah pasti berbeda dengan Singapura atau Malaysia misalnya. ”Mereka tinggal pasang pipa dari kilang minyak ke bandara. Kalau Indonesia harus diangkut lewat laut dan lewat darat di seluruh wilayah yang sangat luas,” ujar Ketua Umum Ikatan Alumni Akademi Migas (Ilugas) itu.

Kondisi tersebut, lanjut Ibrahim, membuat harga Avtur berbeda pada masing-masing bandara. Hanya saja, perbedaan tersebut tidak terlalu besar karena akan berimbas pada berbagai hal termasuk, aspek sosial politik. Memurahkan Avtur di Soekarno-Hatta  akan menyebabkan harga avtur di daerah tinggi dan ini juga bisa berakibat  pada biaya politik. ”Jika biaya distribusi dibiarkan apa adanya, maka harga Avtur di Indonesia akan sangat murah di bandara dekat kilang dan akan sangat mahal di Papua, misalnya. Harmonisasi diperlukan agar harga tidak berbeda sekali antar bandar udara,” imbuh Ibrahim.

Anggota Komisi VII DPR Inas Nasrullah Zubir meminta berbagai pihak untuk tidak membandingkan harga Avtur Pertamina dengan negara lain. Pasalnya, banyak komponen yang menyebabkan perbedaan harga tersebut. ”Tidak bisa dikomparasikan, karena kondisinya juga berbeda. Dari sisi geografis saja Indonesia jauh lebih sulit karena terdiri atas banyak pulau,” katanya.

Menurut Inas, Indonesia yang merupakan negara kepulauan dengan wilayah luas, membuat biaya distribusi membengkak. Pasalnya, pengangkutan Avtur saat ini memang masih dilakukan melalui jalur laut, yaitu dengan tanker. Ini berbeda dengan negara lain yang mempergunakan pipa sehingga bisa menekan harga.

Di berbagai negara , lanjut Inas, pada umumnya sebagian besar wilayah terdiri atas daratan. Ini termasuk Malaysia, Singapura, dan Amerika Serikat, yang sering dijadikan acuan orang untuk membandingkan harga Avtur Pertamina. Kondisi berbagai negara tersebut, jauh berbeda dengan Indonesia.

Di sisi lain, Inas juga meminta semua pihak mengerti jika Pertamina menerapkan harga Avtur yang berbeda antara satu bandara dengan bandara lain. Sebab, dilihat dari biaya tanker saja, tentu masing-masing tidak sama. ”Jika ingin harga di bandara daerah disamakan

dengan bandara di Jakarta, lantas siapa yang menanggung ongkos distribusinya?” tandasnya.

Hari Purnomo, juga anggota Komisi VII DPR mengatakan, Pertamina menanggung beban, bahkan bisa jadi merugi di berbagai bandara di luar pulau. Pasalnya, selain biaya distribusi yang sangat tinggi, juga karena omset di bandara marjinal tersebut sangat kecil. ”Seperti bisnis biasa. Kalau volume penjualan tinggi tentu menguntungkan, kalau volume kecil tentu merugi. Apalagi jika cost-nya tinggi,” katanya. (smn/jpnn)

Komentar telah ditutup.