Nasional

Jaring 120 Juta Wisman Muslim Dunia, Fokus Halal Tourism 

Redaktur:
Jaring 120 Juta Wisman Muslim Dunia, Fokus Halal Tourism  - Nasional

INDOPOS.CO.ID - Pontesi wisata halal di Indonesia delapan kali lebih besar. Setidaknya gambaran ini harus mampu membuat Indonesia sebagai surga wisata halal dunia. ?Untuk melihat lebih jelas peluang tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar kompetisi pariwisata halal nasional 2016. "Konsumsi komoditi halal dunia terbesar di Indonesia, terutama di bidang pariwisata. Muslim travellers Indonesia termasuk nomor tiga terbesar di dunia. Konsumsi lebih besar dari Tiongkok dan Indonesia terbesar di negara muslim. Sayangnya Indonesia masih sebatas pasar, bukan sebagai produsen," ujar Riyanto Sofyan, ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kemenpar di Jakarta, (25/8). Dia menambahkan, selama ini lebih dari 120 juta wisatawan muslim melakukan perjalanan ke pelbagai negara. Namun jumlah tersebut masih dominan membanjiri Malaysia. Sementara potensi yang dimiliki Indonesia jauh lebih besar dari yang dimiliki Negeri Jiran. Perbandingan lain dengan Thailand, yang jumlah penduduk muslimnya hanya enam persen, tapi sudah kedatangan wisatawan muslim mencapai 24.780.000? wisatawan. Thailand sudah mengelola halal tourism sejak 1994 lewat Tourism Sains Center. Hasilnya membuat negara tersebut dikunjungi banyak wisatawan yang peduli dengan halal tourism. ?"Konsep wisata halal itu merupakan ekstensifikasi dari produk wisata itu sendiri. Yang semuanya punya kebutuhan spesifik. Untuk muslim adalah halal food service perlu ada sertifikasi, karena makanan yang kita santap tidak langsung dari sawah, tapi perlu proses," kata Sofyan. Sementara halal tourism di Indonesia baru dikembangkan belakangan ini, dan berbagai infrastruktur masih dalam tahap pembenahan. Ini mulai dari fasilitas umum, food service, penggunaan air dan kemudahan beribadah menjadi hal penting yang harus mendapatkan sertifikat halal. Soalnya hal tersebut akan memberikan kenyamanan bagi turis. "Wisatawan muslim mencapai 120 juta dan pengeluarannya lebih 145 miliar dolar. Produk yang dibutuhkan wisatawan ini meliputi wisata alam, shooping, spa atau nongkrong seperti ngopi dan sebagainya," lanjut Sofyan. Selain itu atraksi perlu ramah seperti pantai yang membedakan tempat main pria dan wanita.  Amenitas dan aksesibilitas yang ramah dan berlabel halal. "Ada 11 parameter yang ditetapkan itu, tapi sekarang masih terkendala seperti akomodasi. Karena untuk halal tourism semua fasilitas dan services itu bersahabat dengan halal tourism. Lalu semua bermuara pada halal konsep. Ini bukan eksklusif, tapi inklusif," pungkasnya. Lokot Endah, wakil ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal Kemenpar mengatakan, daya saing pariwisata di Indonesia di antara negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) menempati urutan keempat versi Global Tourism Travel Index. Pertama Malaysia, UAE (United Arab Emirates) lalu Turki. Kemenpar menargetkan pada 2019 menjadi pertama. Untuk itu pemerintah mengambil langkah strategis dengan mengembangkan tiga fokus pengembangan halal destinasi pertama Great Batam meliputi Sumbar dan Aceh, Great Jakarta meliputi Jabar, dan Great Bali meliputi Lombok (NTB). Sementara itu, Top Ten Muslim mancanegara yang menjadi pasar untuk Middle East di antaranya UEA, Qatar, dan Kuwait. Untuk Asia seperti Malaysia, Singapura, Tiongkok, dan  Eropa meliputi Rusia, Jerman Prancis.  "Lewat kompetisi halal tourism, kita akan melihat lebih jelas potensi yang kita miliki. Banyak potensi yang selama ini masih terpendam yang harus kita munculkan menjadi kekuatan kita merengkuh wisman yang selama ini ambil alih negara tetangga," ujar Lokot. (nel)    

TAGS

Berita Terkait


Baca Juga !.