Nasional

IB: Sekolah Seharian hanya Wacana yang Penuh Dilema

Redaktur:
IB: Sekolah Seharian hanya Wacana yang Penuh Dilema - Nasional

INDOPOS.CO.ID - Mendikbud Muhadjir Efendi melempar wacana tentang sekolah seharian atau full day school. Ide ini menurut Muhadjir erat kaitannya dengan pembentukan karakter siswa yang bermutu. Namun, ide tersebut mendapat beragam tanggapan. Indonesia Bermutu (IB), sebuah lembaga pemerhati pendidikan, termasuk yang bekerja cepat mendiskusikan ide dan wacana Menteri Muhajir itu. Awaluddin Tjalla, pakar psikologi pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, menyarankan agar Kemdikbud terlebih dahulu melakukan kajian mendalam tentang filosofi, konsep, dan teknis sekolah seharian dilihat dari berbagai perspektif kehidupan peserta didik dan keluarga. Sebab, menurut Awal, keluarga sejatinya sebagai motor utama dalam perkembangan kehidupan anak menuju kedewasaan termasuk pendidikan yang bermutu bagi anak. Awal mengingatkan, hasil-hasil studi internasional semisal studi PISA dan TIMSS tentang lama waktu belajar tidak berpengaruh secara signifikan terhadap hasil belajar peserta didik bila tidak dibarengi dengan peningkatan mutu guru, bahan pembelajaran, dan metodepembelajaran yang inspiratif, kreatif, dan tidak membosankan. "Belum lagi kompetensi dan kualifikasi yang dimiliki para pendidik untuk memberikan materi yang bermakna dalam kegiatan pembelajaran dan layanan bimbingan dalam mengoptimalkan berbagai kebutuhan untuk perkembangansecara holistik dari peserta didik," kata Awal. Heri Kurniawan, peneliti Indonesia Bermutu menyambut baik keinginan Muhajir memberlakukan kebijakan sekolah seharian. Menurut Heri, semangat sekolah seharian sejalan dan menguatkan prinsip bahwa setiap ruang dan waktu adalah sekolah. Bahkan Heri menantang Kemdikbud untuk berani mengedukasi masyarakat agar berkomitmen untuk sekolah sepanjang hayat, 24 Jam setiap hari. Namun jika sekolah seharian hanya dimaknai sempit dan dibatasi dimensi waktu dan ruang serta formalistik dibenturkan dengan adanya siswa belajar, guru mengajar, jam pelajaran, beban belajar, bahan ajar, kurikulum, dan ruang kelas, Heri khawatir sekolah seharian hanya mesin bukan nilai-nilai yang hidup. Agung Purwono, orang tua siswa, mengharapkan agar sekolah seharian hanya sebagai pilihan, bukan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap sekolah diseluruh Indonesia. Agung menyarankan agar Mendikbud memiliki peta kebutuhan implementasi sekolah seharian yang mampu memotret dan mengategorikan dengan tepat dan cermatmana sekolah yang tepat dikenai kebijakan sekolah seharian. Senada dengan Heri, bagi Afrizal Sinaro, peneliti Indonesia Bermutu, sekolah seharian meski difokuskan sebagai upaya agar murid, guru, orang tua menjadi pembelajar sepanjang hayat. "Guru yang sudah berhenti belajar, sebaiknya segera berhenti mengajar." Rahmat Syehani dari IB menyimpulkan faktor kunci yang harus segera dirumuskan pemerintah berkaitan dengan kebijakan sekolah seharian adalah faktor-faktor kunci yang bermakna bagi ekosistem sekolah. "Jika pemerintah abai terhadap faktor-faktor kunci ini, haqqul yakin sekolah seharian hanyalah sebuah wacana penuh dilema," katanya.(*)  

Berita Terkait


Baca Juga !.