Ok//aro//

Foto operasi laut//

Baca Juga :

 

* Dari Patroli Laut Bersama Satker PSDKP dan KPPBC Kupang, NTT

 

Baca Juga :

Sasar Enam Pulau Temukan Tiga Kasus

 

Patroli bersama antara Satuan Kerja Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (Satker PSDKP) Kupang dengan Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Kupang, di perairan Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuahkan hasil positif.

 

Baca Juga :

Garuda Menteri

TOMMY AQUINODA, Kupang

 

Tekad untuk mengawal wilayah perairan NTT oleh Satker PSDKP dan KPPBC akhirnya diwujudnyatakan dengan menggandeng beberapa unit terkait. Selama dua hari, mulai Rabu (21/9) dan Kamis (22/9), tim gabungan ini menjalankan operasi pengamanan wilayah perairan dengan melibatkan anggota dari Direktorat Polair Polda NTT dan Badan Keamanan Laut (Bakamla). Dan kerja keras tim gabungan ini tak sia-sia. Dalam dua hari melayari wilayah perairan NTT, tim ini berhasil mendapati tiga kasus berbeda.

Sebagaimana yang dituturkan Kepala PSDKP Kupang, Eddy Surya kepada Timor Express (Grup INDOPOS) di Kupang, NTT, Jumat (23/9).

Eddy mengatakan, selama menjalankan operasi, tim gabungan memantau pemanfataan sumber daya kelautan dan perikanan di enam pulau. Diantaranya, Pulau Kera, Pulau Tikus, Pulau Burung, Pulau Tabui, Pulau Kambing, dan Pulau Semau.

Hasilnya, jelas Eddy, tim gabungan menemukan tiga kasus berbeda. Pertama, ada satu kapal ikan yang tidak lengkap dokumennya lantaran masa berlaku surat laik operasi (SLO) kapal sudah habis. Kapal tersebut kedapatan saat beroperasi di dekat Pulau Semau. Oleh karena itu, pihaknya menyarankan pemilik kapal untuk segera membuat laporan di Satker PSDKP. Sehingga, SLO bisa diperbaharui. ”Dokumen lainnya lengkap. Hanya SLO yang belum diperbaharui. Setelah SLO selesai, mereka harus urus surat persetujuan berlayar. Kewenangannya ada di Pelabuhan Perikanan,” katanya.

Eddy menambahkan, kasus kedua ditemukan di perairan dekat Pulau Kera. Yang mana, sebuah kapal ikan ditemukan dengan nama yang berbeda, antara yang tercantum di dokumen dengan yang tertulis di lambung kapal. Atas temuan tersebut, tim menyarankan pemilik kapal untuk menyesuaikan nama di lambung kapal dengan nama yang tertera di dokumen. ”Kapal ikan tersebut dihadang saat sedang berlayar menuju ke Oeba. Sebenarnya mereka taat dalam mengurus dokumen. Jadi kita hanya sarankan untuk segera ganti nama di lambung kapal,” terangnya.

Kasus ketiga yang ditemukan tim gabungan dalam operasi, lanjut Eddy, yakni penebangan bakau di Pulau Kambing. Namun, penebangan yang dilakukan masih dalam skala kecil. ”Masyarakat menebang bakau untuk dijadikan kayu bakar. Tapi masih dalam skala kecil,” tandasnya.

Selain ketiga kasus tersebut di atas, Eddy katakan, tim gabungan juga mendapat informasi terkait aktivitas transit beberapa kapal ikan di Pulau Kera. Yang mana, tempat transit tersebut diduga menyimpan peralatan penangkapan yang tidak ramah lingkungan. Seperti bom, potasium, dan kompresor berbahan bakar minyak. Namun, tim gabungan tidak sempat menelusuri kebenaran informasi tersebut, karena misi yang baru mereka mulai hanya sekadar untuk mencari informasi.  ”Bisa jadi, saat diperiksa, mereka hanya tunjukan alat tangkap yang ramah lingkungan. Tapi dalam kesempatan lain, mereka ke tempat transit untuk mengambil peralatan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” jelasnya. (*/aln/jpnn)

Komentar telah ditutup.