Potensi Industri Bandeng Masuk Prioritas Pemerintah

INDOPOS.CO.ID- Masyarakat ?Akuakultur Indonesia (MAI) bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar workshop perbandengan nasional, Jumat (30/9) lalu. Komoditi bandeng merupakan Komoditi yang layak untuk diperhatikan, karena dianggap mampu menopang ketahanan pangan nasional.

Hal yang wajar jika pemerintah dan pengusaha memberikan perhatian lebih pengembangan produksi bandeng. Karena berdasarkan penelitian para ilmuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada 2006 lalu mencatat kandungan omega 3 bandeng dengan salmon disebut sebut lebih unggul bandeng perbandingannya 14,20 banding 2,60 persen.

“Penelitiannya sudah ada, dan dalam forum tadi (workshop) juga masuk dalam pembahasan tentang kandungannya,” ujar Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebijakto saat dihubungi melalui telepon genggamnya, Minggu (2/10).

Menurut ?Slamet, Indonesia memiliki area budidaya tersebar di tambak, KJA. Indonesia pun dikenal sebagai penghasil nener (benih bandeng) terbesar dunia, tiap hari 4 juta nener diekspor ke Filipina dan Taiwan.

Khusus ari Bali bisa mencapai 1.5 miliar ekor per tahun. Lebih lanjut dia mengatakan produksi bandeng masuk dalam tiga komiditi terbesar di tanah air. Nila, lele dan bandeng masuk dalam fokus perhatian pemerintah karena menjadi ketahanan pangan nasional.

Produksi bandeng 2015 mencapai 668,262 ton dengan nilai mencapai 10.023 miliar rupiah. Tahun ini ditargetkan budidaya bandeng mencapai 720 ribu ton. Tiga Provinsi produsen bandeng terbesar selama ini dihasilkan oleh Jatim produksi nya mencapai 20.79 persen lalu sulawesi Selatan 18.89 persen ketika Jabar sekitar 14.71 persen.

Langkah strategis dan fokus kegiatan dalam pengembangan industri bandeng nasion adalah salah satu nya penyediaan bahan baku meliputi bibit dan induk unggul, pakan mandiri. “Lewat balai-balai yang kita miliki kami tengah menggenjot bibit dan induk unggul. Selama ini bibit unggul milik swasta di jual keluar negeri, dan kualitas nomor dua nya di budidayakan di dalam negeri,” ujarnya.

Hal itu juga yang membuat produksi bandeng ditanah air dikatakan Slamet kalah dengan Filipina dan Taiwan. Ironisnya, benih dikirim dari Indonesia. “Kami juga menfasilitasi pembudidaya ke sektor perbankan untuk pembiayaan,” tutup Slamet.

Sementara itu Rokhmin Dahuri, Pendiri Masyarakat Akuakultur Indonesia mengatakan peluang usaha bandeng tanah air sangat tinggi. Mulai dari produk olahan yang sangat diminati di dalam negeri, ekspor nener, sampai sebagai umpan penangkapan tuna yang menggunakan alat tangkap huhate atau pole and line.

“Untuk alat tangkap ini umpan yang digunakan adalah bandeng dengan ukuran 7-8 gram per ekor atau 100 – 150 ekor perkilogram,” terang Rokhmin Dahuri.

Sementara untuk serapan pasar paling besar ditingkat rumah tangga mencapai 352.718 ton pertahunnya. Teknologi budidaya di dalam negeri masih tradisional dan semi intensif. Untuk tradisional diterapkan sebagian besar pembudidaya dengan hasil rata-rata 500 kg sampai dengan 1 ton per hektar per tahun.

Sementara semi intensif bisa menghasilkan 3 ton per hektar pertahun. “Tapi untuk semi intensif masih diterapkan sebagian kecil pembudidaya tanah air,” katanya.

Workshop Perbandengan Nasional diikuti oleh stakeholder 50 orang baik hulu ke hilir. Pada kesempatan tersebut lebih dari sepuluh poin penting yang harus dikerjakan segera. Meliputi masalah regulasi ketetapan harga nener bandeng yang murah sehingga merugikan petani.

Masalah ekspor nener, eksportir tidak kompak sehingga harga rendah ditempat tujuan, lalu kualitas nener perlu diperbaiki. Selain itu bandeng hasil produksinya kualitas rendah, bau lumpur, perlu dicarikan solusinya.

?Pada kesempatan lain, Herman Khaeron, Anggota DPR Komisi IV mengatakan pemerintah memang harus konsisten untuk kebijakan yang dibuat. Pemerintah Perlu diperbanyak pembudidaya bandeng di KJA laut dan Pen Culture agar kualitas lebih baik. Beberapa provinsi yang membutuhkan bantuan bibit nener atau bangun Pembenihan harus difasilitasi.

“Kehadiran pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung perkembangan produksi dan industrialisasi bandeng. Untuk anggaran kami siap mengawal untuk kesejahteraan nelayan dan pembudidaya,” ujar Herman Khaeron. (nel)

Komentar telah ditutup.