Digandoli America, Ingin Jadi Pelatih

INDOPOS.CO.ID – Salvador Cabanas memang dengan gamblang telah menyatakan bahwa dia memaafkan orang yang telah melubangi kepalanya enam tahun lalu. Namun, dalam hati kecilnya, tentu terbersit sebuah kekecewaan yang amat sangat.

Wajar saja. Sebab, jika dia tidak mengalami insiden yang telah merenggut karirnya di lapangan hijau, mungkin dia bakal menjadi bintang di Eropa. Itu setelah Cabanas mengaku telah meneken perjanjian prakontrak untuk pindah ke Eropa beberapa saat sebelum dia ditembak.

Baca Juga :

Saat dia membubuhkan tanda tangannya ke selembar kertas tersebut, Cabanas tengah menikmati masa keemasannya sebagai salah satu penyerang paling ditakuti di Amerika Utara dan Selatan. Tidak hanya mencetak 66 gol dari 115 kali penampilan di Liga MX bersama Club America, Chava, panggilan Cabanas, menjadi Maximo Anotador (Top Scorer) di Copa Libertadores dua edisi beruntun.

Di edisi 2007, Cabanas tidak hanya membawa America hingga ke perempat final. Dia menambahkannya dengan koleksi sepulih gol yang membuatnya unggul dari playmaker legendaris Argentina, Juan Roman Riquelme yang saat itu memperkuat Boca Juniors. Namun juga jagoan Panama Blas Perez yang masing-masing mencetak delapan gol. Semusim berselang, pencapaiannya lebih fantastis dengan mengantarkan America ke fase empat besar sebelum dihentikan LDU Quito yang kemudian bablas meraih titel pertamanya. Gelar Maximo Amotador juga berhasil direbut meski torehannya menyusut dua bola.

Baca Juga :

Sementara di timnas, dia membawa Paraguay ke perempat final Copa America 2007 dengan lesakkan tiga gol dari empat laga, dan meloloskannya ke putaran final Piala Dunia 2010 sebagai top socrer setelah menceploskan enam gol.

Tidak heran, para pemandu bakat raksasa Eropa mengamati pemain bertinggi 173 cm itu dengan lebih serius. ”Ketika itu terjadi (penembakan), aku baru saja menyetujui prakontrak senilai USD 1,7 juta (Rp 22,03 miliar dengan kurs USD 1= Rp 12.962) untuk transfer ke Eropa,” kata Cabanas kala itu sebagaimana dilansir dari situs Conmebol.

Lantas, klub mana yang berminat menggunakan tenaga striker bertubuh tambun tersebut? Sebab, ada dua klub Premier League yang saat itu menginginkan tenaga bomber bertubuh tambun tersebut.

Yang pertama adalah Manchester United. ”Agenku yang memberitahukannya,” ungkap bapak dari James dan Mia Ivonne itu. Kemudian, tim kedua adalah Sunderland. Hal itu seiring dengan pengakuan manajer The Black Cats, julukan Sunderland, saat itu, Steve Bruce. Bruce berujar bahwa dia menjadikan Cabanas sebagai target setelah buruan utamanya, Kevin Kuranyi lepas.

Kuranyi, sebagaimana dilaporkan Bild, mengaku ingin terus bertahan di Schalke 04 meski kontraknya habis musim panas 2010. ”Bersama pelatih Felix Magath, aku telah menemukan kunci kesenangan dari permainan ini,” kata Kuranyi. ”Kini tiba saatnya bagiku untuk menciptakan sesuatu yang besar di tim ini,” lanjut striker yang terakhir kali memperkuat 1899 Hoffenheim di musim lalu tersebut.

Pada akhirnya, Kuranyi memang terlempar keluar dari Schalke dan melanglang buana ke Rusia memperkuat Dynamo Moscow. Namun, jelas bahwa Kuranyi sama sekali tak tertarik meniti karir di Inggris. Itulah yang menjadi pertimbangan Bruce untuk berpaling kepada Cabanas. Bruce mengaku telah memonitor Cabanas selama dia berkiprah di Copa Libertadores.

”Dia pemain yang fantastis,” puji Bruce dikutip dari Associated Press. ”Aku tidak tahu jika kami bisa mengikatnya. Yang jelas, keberadaannya dapat membuat klub ini semakin menarik,” timpal manajer yang terakhir kali membesut Hull City.

Nah, Club America pun tak ingin aset terbaiknya lepas. Mereka pun menggunakan segala cara agar Cabanas tidak pergi. Sebuah apartemen pun diberikan kepadanya di Acapulco dan Cancun. ”Mereka juga menaikkan gajiku,” lanjut pemain yang total mengemas sepuluh gol dari 44 caps bersama Paraguay itu.

Kini, semua itu hanya tinggal cerita. Sejak membela Independiente PJC pada 2014, dia memutuskan untuk menjadi penjual roti. Hanya tinggal satu impian tersisa yang coba dipeliharanya baik-baik untuk kemudian diwujudkan kelak. ”Aku ingin menjadi pelatih. Terpikir olehku untuk menjajalnya secara profesional di Paraguay ini,” tandasnya. (apu)

Komentar telah ditutup.