Momentum Koreksi Dapat Dimanfaatkan Untuk Melakukan Aksi Beli

INDOPOS.CO.ID– Penambahan jumlah tenaga kerja di AS berada di bawah ekspektasi. Hal tersebut memperkuat kemungkinan The Fed atau bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya akhir tahun ini.

Berdasar data resmi di AS pada akhir pekan lalu, jumlah tenaga kerja di luar bidang pertanian (non-farm payrolls) naik 156 ribu secara bulanan pada September 2016. Pada saat yang sama, tingkat pengangguran bertambah menjadi 5 persen. Angka yang dirilis itu tidak mencapai ekspektasi para ekonom berdasar survei Reuters. Konsensus ekonom mengharapkan 176 ribu lapangan kerja baru di AS dan tingkat pengangguran bertahan di level 4,9 persen.

Baca Juga :

Kecurigaan terhadap potensi kenaikan muncul sejak akhir pekan lalu dan membuat bursa saham Asia berguguran. ’’Mayoritas bursa saham di Asia terkoreksi pada akhir pekan menjelang data payroll AS yang mungkin memperkuat probabilitas kenaikan suku bunga tahun ini. Hal itu menjadi alasan investor untuk melakukan profit taking pada akhir pekan,’’ jelas research analyst Reliance Securities Lanjar Nafi akhir pekan lalu.

Portofolio bersifat safe haven, terutama dalam dolar AS (USD), menguat sejak akhir pekan lalu. Investor memilih aksi ambil untung pada pasar saham lalu. Sebagian investor juga mulai mengincar USD dalam rangka mengantisipasi sentimen kenaikan suku bunga AS tersebut. Tidak terkecuali investor-investor di Indonesia.

Nilai tukar rupiah sedikit melemah ke level Rp 13.002 per USD akhir pekan lalu. Indeks harga saham gabungan (IHSG) pun turun 32,195 poin (0,595 persen) ke level 5.377,149.

Selanjutnya, merespons sentiment yang sama, bursa saham AS juga ditutup di zona merah. Indeks S&P 500 terpuruk 0,33 persen akhir pekan lalu. Indeks Dow Jones turun 0,15 persen dan indeks Nasdaq drop 0,27 persen. Begitu pula mayoritas pasar saham di Eropa yang ditutup turun akhir pekan kemarin.

Lanjar menyatakan, salah satu sentimen positif yang menjadi harapan faktor penguatan adalah kenaikan harga-harga komoditas menjelang akhir tahun sehingga investor berspekulasi positif terhadap hasil laporan keuangan perusahaan komoditas. Namun data Nymex mencatat akhir pekan lalu harga minyak dunia juga turun 1,76 persen menjadi USD 49,55 per barel.

’’Sentimen pada awal pekan dibuka data aktivitas ekspor dan impor serta neraca perdagangan di Jerman dan neraca perdagangan berbasis BOP (balance of payment, Red) di Jepang,’’ ucapnya. Lanjar memperkirakan IHSG masih berpeluang melemah meski tekanannya mulai terbatas. Pada pekan ini, IHSG diperkirakan bergerak di rentang level 5.340–5.400.

Secara berbeda, analis PT Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya memperkirakan IHSG awal pekan ini bergerak menguat di rentang level 5.336–5.488. ’’IHSG masih terus berada dalam rentang konsolidasi yang wajar. Momentum koreksi dapat dimanfaatkan untuk melakukan aksi beli,’’ tuturnya Minggu (09/10). (gen/c5/sof/jpg)

Komentar telah ditutup.