1 November, Bandung Larang Styrofoam

INDOPOS.CO.ID – Mulai 1 November mendatang, Wali kota Bandung Ridwan Kamil melarang penggunaan styrofoam pada makanan. “Kami sudah meminta BPLH (Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup) untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat selama dua minggu ke depan. Ini agar pada 1 November mendatang bisa diberlakukan,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (13/10).

Larangan ini, lanjut Ridwan, selain karena amanat peraturan daerah (perda) dan Undang-Undang Lingkungan Hidup, juga karena alasan kesehatan.  “Jadi di styrofoam ini, kalau zat kimianya menguap dan masuk ke dalam makanan, bisa memicu kanker,” terangnya.

Baca Juga :

11 Pemain Genoa dan 3 Staf Positif COVID-19

Karenanya, penggunaan styrofoam dilarang baik itu bagi pengusaha besar sampai pengusaha kecil. Bahkan, Ridwan sudah menyiapkan sanksi bagi pengusaha besar yang membandel. “Nantinya, ada surat peringatan satu sampai tiga, bahkan ada sanksi administrasi yang terkait dengan izin,” tambahnya.

Sementara untuk pengusaha kecil, Ridwan berkeyakinan mereka akan mengikuti aturan. “Karena yang biasanya bandel mah, pengusaha besar,” terangnya.

Baca Juga :

Sebagai gantinya, menurut Ridwan, bisa menggunakan kertas nasi, kardus bahkan tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan daun pisang. “Seperti penjual makanan di foodcourd Tamansari, mereka di sana pakai piring, terus menggunakan alas pakai daun pisang,” jelasnya.

Sementara untuk makanan yang di take away atau delivery, menggunakan karton tebal yang bisa digunakan makanan masah. “Seperti salah satu penjual makanan di Braga,” tambahnya.

Kepala BPLH Kota Bandung Hikmat Ginanjar enggan memberikan komentar banyak mengenai hal ini. “Nanti ya, masih kita bahas, jadi saya belum bisa bicara banyak,” katanya.

Sementara itu, Kadin Jawa Barat Suryamal mendukung peraturan pemerintah Kota Bandung yang akan menerapkan larangan penggunaan styrofoam tertanggal 1 November mendatang. Namun, langkah tersebut harus diikuti dengan sosialisasi yang maksimal kepada masyarakat dan para pengusaha. “Larangan penggunaan Styrofoam karena pertimbangan sisi lingkungan dan kesehatan, tentu kami mendukung jika memang nilai manfaatnya lebih besar untuk masyarakat. Apalagi ini instruksi pemerintah,” ujarnya saat dihubungi, kemarin.

Sosialisasi ia nilai sangat penting karena para pengusaha, khususnya di bidang makanan perlu diberikan pemahaman secara komprehensif. Ia melanjutkan, pihak pemerintah pun harus aktif mengajak pengusaha dalam mencari alternatif pengganti styrofoam. “Sepanjang (para pengusaha, Red) diberi pemahaman, dan ada solusi saya kira no problem. Kalau misalkan ada aturan tapi tidak ada solusi, ini yang bakal jadi masalah,” ujarnya.

Ia menilai, pengusaha di sektor makanan yang akan paling terasa dampak larangan tersebut. Biasanya, bahan styrofoam dimanfaatkan sebagai tempat untuk makanan atau kemasan lainnya.

Ia berharap dibalik pelarangan penggunaan styrofoam, nantinya ada pengganti yang aman dari sisi kesehatan dan lingkungan, tapi mudah didapat, dan murah untuk para pengusaha.

“Kalau detilnya saya belum mendalami terkait styrofoam ini. Tapi yang jelas, dari sisi ekonomis, styrofoam ini memang cukup simpel dan murah,” ujarnya. (mur/bbb/jpnn)

Komentar telah ditutup.