Ekspor Januari-September Turun 9 Persen

INDOPOS.CO.ID– Tren surplus pada neraca perdagangan Indonesia terus berlanjut. Pada September lalu Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan kinerja ekspor 0,59 persen jika dibandingkan dengan September 2015. Nilai ekspor pada September mencapai USD 12,51 miliar.

Penurunan kinerja ekspor diikuti penurunan nilai impor USD 11,3 miliar. Dengan demikian, pada September lalu terjadi surplus USD 1,22 miliar di neraca perdagangan. ’’Jumlah ini tertinggi selama 13 bulan terakhir,” kata Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, Senin (17/10).

Salah satu pemicu penurunan kinerja ekspor adalah anjloknya ekspor migas dari USD 1,14 miliar menjadi USD 1,06 miliar. Nilai ekspor komoditas nonmigas juga turun 1,35 persen dari USD 11,61 miliar menjadi USD 11,45 miliar.

’’Penurunan terbesar ekspor migas adalah komoditas hasil minyak dan minyak mentah. Selanjutnya, penurunan terbesar ekspor nonmigas adalah perhiatan dan permata,” jelas Kecuk.

Baca Juga :

Debat Kepribadian

Secara akumulatif, nilai ekspor periode Januari–September tahun ini mencapai USD 104,36 miliar atau menurun 9,41 persen jika dibandingkan dengan Januari–September 2015.

Amerika Serikat masih menjadi pasar utama ekspor Indonesia (12,24 persen) dengan nilai ekspor USD 11,59 miliar. Disusul Tiongkok (10,26 persen) senilai USD 9,71 miliar dan Jepang (10,07 persen) USD 9,53 miliar.

Sementara itu, kinerja impor pada September tercatat USD 11,3 miliar atau turun 8,78 persen. Secara kumulatif, nilai impor Januari–September 2016 mencapai USD 98,69 miliar atau turun 8,61 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. ”Kumulatif impor ini terdiri atas impor migas USD 13,74 miliar dan nonmigas USD 84,95 miliar,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Tirta Segara menambahkan, surplus neraca perdagangan didukung kenaikan surplus neraca perdagangan nonmigas.

”Untuk keseluruhan triwulan III 2016, neraca perdagangan Indonesia tercatat surplus USD 2,09 miliar atau meningkat jika dibandingkan dengan surplus triwulan II-2016 USD 1,92 miliar,” tuturnya.

Penurunan impor nonmigas dipicu penurunan impor mesin dan peralatan mekanik, mesin dan peralatan listrik, kendaraan dan spare part, pupuk, serta biji-bijian berminyak. Sedangkan penurunan ekspor nonmigas disebabkan oleh turunnya ekspor perhiasan/permata, mesin, bijih, kerak, dan abu logam, barang-barang rajutan, dan biji-bijian berminyak.

Defisit neraca perdagangan migas USD 0,68 miliar dipengaruhi penurunan ekspor minyak mentah dan impor migas. Bank sentral menilai kinerja neraca perdagangan pada September 2016 dan triwulan III positif. (ken/dee/c18/noe/jpg)

Komentar telah ditutup.