Bahaya, Patah Tulang Jangan Diurut

INDOPOS.CO.ID – Patah tulang merupakan kasus yang sering terjadi baik akibat kecelakaan maupun akibat penyakit osteoporosis. Hanya saja banyak masyarakat yang menyerahkan ke tukang urut atau sangkal putung untuk penanganannya. Padahal, tindakan tersebut sangatlah berbahaya. ”Bahkan berisiko terkena kanker tulang,” ungkap ahli tulang Dr dr Franky Hartono SpOT(K) di Siloam Hospitals Kebon Jeruk (SHKJ), Jakarta.

Menurut Frangky, dari sejumlah pasien yang ditanganinya adalah mantan pasien sangkal putung. Patah tulang yang dideritanya bukannya sembuh, tetapi malah muncul masalah baru yakni tumbuh kanker tulang. Kanker tersebut tumbuh di bekas patahan. Dikatakan, sel kanker tersebut diduga tumbuh berkat rangsangan berupa diurut-urut. Tak ayal, penanganannya pun menjadi rumit lagi karena memerlukan serangkaian tindakan medis. Dia menyarangkan, kasus patah tulang harus diserahkan kepada dokter ahlinya dan ditangani secara medis.

Baca Juga :

Kasus patah tulang sebagian besar terjadi pada pergelangan tangan, tulang balakang, dan tulang pangkal paha. Menurutnya, dokter akan melihat kasusnyaDalam satu kasus tertentu, patah tulang tidak harus dioperasi. ”Karena semua ada alatnya sekarang kaya di RS ini. Semua serba terukur,” ungkapnya, saat dialog dengan wartawan. Turut hadir pula dr Sunaryo Kusumo, SpOT(K), dr Daniel Marpaung SpOT, dr Vera Nevyta Tarigan SpRad, dr Tetty Hutabarat SpKFR.

Senada dengan Frangky, dr Karina Besinga SpOT(K) mengingatkan masyarakat agar tidak menyerahkan kasus patah tulang kepada tukang urut. Penanganan patah tulang selain memerlukan keahlian juga memerlukan bantuan peralatan yang tepat. Masalah inilah yang menurutnya kurang disadari sepenuhnya oleh sebagian besar masyarakat. ”Tidak semata-mata ditarik lalu tulangnya disatukan. Belum tentu posisinya lurus. Lain kalau dengan bantuan alat (tanpa operasi) yang memang bisa benar-benar alignment lurus dan tumbuhnya benar,” paparnya.

Karina juga mengakui, banyak pasien yang ditanganinya adalah bekas pasien sangkal putung. Karena bekas patahan tidak menyambung sempurna, maka pihaknya terpaksa mematahkan tulangnya lagi. Kemudian disambung lagi dengan posisi yang benar. Mengenai sejumlah kasus pasien tumbuh kanker tulang di bekas patahan tulang, Karina juga membenarkan.

Dia menduga, sel kanker itu sebenarnya sudah ada sejak awal. ”Bukan berarti setiap patah tulang yang dibawa ke tukang urut akan tumbuh kanker,” pungkasnya. Karena penanganan yang tidak tepat, maka sel kanker itu menjadi tumbuh dan bahkan malah mengganas. Bahkan menurutnya, tulang yang terserang kanker itu menjadi penyebab osteoporosis. ”Sehingga ada yang jatuh sedikit saja, terutama pada anak-anak, kok tulangnya patah. Nah ini patut dicurugai ada apa, jangan-jangan ada kanker,” ungkapnya.

Baca Juga :

Berdasarkan pengalaman tersebut Karina menyimpulkan, kasus patah tulang harus ditangani oleh tim dokter ahli tulang. Bukan ke tukang urut. Sementara itu ahli fisioterapi SHKJ Dr Tetty Hutabarat SpKFR mengatakan, jika ada merasakan nyeri di leher, punggung, dan pinggang sebaiknya segera periksa ke dokter tulang. Sebab itu bisa jadi adalah gejalan osteoporosis di tulang belakang.

”Kita bisa memeriksa tingkat kepadatan tulang dengan menggunakan mesin Dual-energy X-ray absorptiometry (Dexa). Kemudian baru kita tentukan langkah rehabnya,” ungkapnya. Menurut, osteoporosis sendiri adalah penurunan massa tulang. Pemicunya beragam, mulai faktor genetik, serangan kanker tulang, dan wanita yang menopause berisiko lebih besar. Penanganan penyakit osteoporosis yaitu dengan operasi dan non operasi. Penanganan non operasi adalah aktivitas fisik, sinar matahari, nutrisi, obat, fisioterapi. (dni)

Komentar telah ditutup.