Petani Tiongkok Serbu Bogor Kelola Lahan 20 Hektare

INDOPOA.CO.ID – Penangkapan empat WNA di perbukitan Gunung Leutik, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, membuka tabir serbuan imigran gelap asal Tiongkok, ke Bogor. Tanpa mengantongi surat resmi, WNA tersebut bebas menyewa lahan dan bercocok tanam. Diketahui pula, salah satu imigran telah memiliki SIM A dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Republik Indonesia.

Kepala Desa Sukadamai, Jaon Latipah, angkat bicara soal keberadaan empat imigran ilegal di wilayahnya. Menurut Joan, pemerintah desa mulai berkomunikasi dengan para imigran pada Juni 2016 silam. Orang yang membawa imigran masuk ke Sukadamai warga bernama Heri, dari kerabatnya yang bekerja sebagai PNS di Pemda Cianjur.

Baca Juga :

Pergeseran Tanah, Satu Rumah Nyaris Ambruk

”Orang yang tahu persis ceritanya, suami saya, Pak Maman Suherman,” tutur Joan, seraya meminta Radar Bogor (indopos.co.id group) menghubungi sang suami untuk mendapat cerita lengkap. Di temui di tempat terpisah, Maman Suherman, yang juga LPM Desa Sukadamai, mengungkapkan awalnya para imigran itu mengaku berasal dari Korea.

Mereka mengaku sedang mencari lahan untuk menanam cabai. ”Karena kebetulan saya dikuasakan untuk mengelola lahan garapan milik Aling, warga Jakarta, saya pun menyambutnya dengan baik. Apalagi dia (WNA) menjanjikan akan memberdayakan warga di sini untuk menjadi karyawan. Kalimat inilah membuat saya tambah senang,” ungkap Maman.

Baca Juga :

Dia juga menjelaskan, batas waktu penggarapan tanah berstatus Hak Guna Usaha (HGU) itu hanya selama dua tahun saja. Sedangkan luas tanah yang dibutuhkan adalah seluas 20 hektare.

”Menyewa lahan ini hanya pakai kuitansi antara saya dengan Heri. Kalau menurut Aming, dia  sewaktu di Hongkong sudah berprofesi sebagai pengusaha cabai. Nah dia juga menanyakan  untuk pemasaran di Jakarta itu ada dimana. Aming juga mengatakan, bahwa dia berasal dari Honggkong hanya sudah lama tinggal di Jakarta dan rumahnya ada di Tangerang. Sewaktu mereka ke sini jumlahnya belum ada empat,  hanya dua orang saja. Saya juga baru tahu kalau nama Aslinya Aming adalah Yu Wai Man,” jelasnya.

Baca Juga :

Selama di Sukadamai, para WNA itu tinggal di rumah gubuk di tengah perkebunan. Meski Aming mengaku dari Korea, tapi dia paham bahasa Indonesia. Di lahan pertanian itu, Aming bertugas mengurus pembukuan, sedangkan tiga WNA lain bekerja sebagai teknisi.

”Selama di sini mereka tidak pernah bermasalah. Justru ke empat imigran itu banyak membantu. Terbukti sebanyak 30 warga di sini pun menjadi karyawan tetap mereka. Warga dibayar Rp 60 ribu per hari,” akunya.

Sekarang, menurut Maman, dengan tertangkapnya keempat WNA itu, warga banyak yang menganggur. Namun jika para imigran itu memang bersalah, warga pun mendukung proses hukum. “Untuk harga sewa tanah, satu hektar Rp2,5 juta per tahun. Mereka juga memperbaiki jalan,” tukasnya.

Sementara itu, Kasi Pengawasan Keimigrasian pada Kantor Imigrasi Bogor, Arief A Satoto, mengatakan pihaknya masih terus memeriksa empat WNA Tiongkok yakni YWM (37), XXJ (40), GH (50), dan GZ (50), yang diduga melakukan penyalahgunaan visa. Keempatnya diperiksa sejak pagi hingga malam. “Belum ada perkembangan, nanti akan kita lanjutkan besok (hari ini, red),” ujarnya.

Seperti diberitakan Radar Bogor sebelumnya, Selasa (8/10), tim Imigrasi yang dipimpin Arif menggerebek sebuah lahan pertanian di Kampung Gunung Leutik, Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur. Di sana, tim menangkap empat WNA asal Tiongkok yang bekerja sebagai petani cabai.

Dari penggeledahan di lokasi, tim menyita delapan unit handphone, alat pertanian, radio komunikasi, dua buku tabungan berisi Rp 20 juta dan Rp15 juta. Saat kembali ditemui di Kantor Imigrasi Bogor, keempat WNA itu tetap menghindari wartawan. “Tidak, tidak, sana. Tidak mau,” ujar Aming, imigran yang bisa berbahasa Indonesia.(fdm/rp1/d)

Komentar telah ditutup.