Rupiah Terburuk sejak September 2011

INDOPOS.CO.ID-Bank Indonesia (BI) bakal melakukan intervensi untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Maklum, nilai tukar rupiah jeblok dan sempat defisit 5,55 persen di kisaran Rp 13.865 per USD. Koreksi rupiah merupakan terparah sejak September 2011.

Di kawasan Asean, USD juga menguat terhadap ringgit Malaysia, peso Filipina dan baht Thailand. ”Kami hadir di dua pasar sekaligus yaitu di pasar valuta asing (valas) dan Surat Berharga Negara (SBN),” tutur Deputi Gubenur Senior BI Mirza Adityaswara.

Baca Juga :

Biden Sebut Trump Salahgunakan Kekuasaan

Menurut Mirza, pelemahan rupiah pada pembukaan perdagangan itu hanya bersifat sementara. Pernyataan Mirza terkonfirmasi dengan nilai tukar rupiah ditutup di level Rp 13.383 per USD atau tekor 245 poin (1,86 persen) setelah bergerak di kisaran Rp 13.233-Rp 13.873.

Di samping itu, koreksi tadi siang juga tidak mencerminkan nilai rupiah sesuai dengan fundamental ekonomi domestik yang diyakininya masih baik. Perbaikan fundamental ekonomi domestik terefleksi dari pertumbuhan ekonomi kuartal tiga 2016 mencapai 5,02 persen, atau terbesar kedua di Asia Tenggara setelah Filipina, 6 persen.

Baca Juga :

Pencuri Sepeda Berkelas di Kendari Ditangkap

Kemudian, defisit neraca transaksi berjalan juga turun menjadi 1,83 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Tidak hanya itu, surplus neraca pembayaran Indonesia juga mengalami kenaikan dari USD 2,2 miliar menjadi USD 5,7 miliar.

Pelemahan rupiah klaim BI dipicu reaksi pasar atas ketidakpastian di AS setelah kemenangan Donald Trump mendapat perlawanan. ”Pasar itu kalau sudah naik, ada analisis negatif agar ada alasan untuk jual,” tegasnya.

Baca Juga :

Di luar negeri, bilang Mirza, rupiah diperdagangkan dalam transaksi pasar non deliverable forward (NDF) dipicu perkembangan nilai tukar mata uang negara lain dan tidak mencerminkan fundamental. Selain itu, pelemahan rupiah karena ada kekhawatiran pasar kalau Indonesia akan melakukan kebijakan tertentu di pasar uang dengan perdagangan rupiah di pasar uang seperti negara lain.

Namun, Mirza membantah rumor itu dengan tegas. ”Indonesia tidak akan melakukan pembatasan perdagangan valas. Baik di pasar uang, pasar antar bank karena paling terbaik adalah membiarkan pasar berjalan dengan baik,” ucapnya. (far)

Komentar telah ditutup.