AALI Rambah Bisnis Penggemukan Sapi

INDOPOS.CO.ID – Emiten perkebunan Astra Agro Lestari (AALI) memasuki lini bisnis penggemukan sapi potong. Diversifikasi usaha itu dilakukan untuk menunjang program pemerintah. Program tersebut tercantum dalam Peraturan Menteri Pertanian No.105/2014 tentang Integrasi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit dengan Usaha Budidaya Sapi Potong yang diterbitkan pada 14 Agustus 2014.

Kini perseroan tengah dalam tahap pembibitan sapi sebanyak 2.060 ekor, sedang tahap penggemukan sapi dalam proses. Untuk pembibitan sapi berlokasi di Kumai, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah (Kalteng). ”Tahap pertama pembiakan memakan waktu 9 bulan. Setelah itu berjalan maka akan masuk ke tahap penggemukan yang memakan waktu 4 bulan,” tutur Head of Treasury, Banking & Investor Relation AALI Rudy Limardjo.

Total investasi dikucurkan perseroan untuk bisnis itu sejumlah Rp 75 miliar dari kas internal. Investasi itu meliputi pembibitan 2.060 ekor sapi dan infrastruktur penunjang lain seperti kandang. Total lahan untuk kepentingan itu sekitar 20 hektar (ha). Meski begitu, perseroan belum bisa memperkirakan kontribusi dari diversifikasi bisnis karena baru mulai.

Sementara itu terkait rencana kedatangan sapi impor tahap kedua dari Australia, untuk tahap kedua belum ada jadwal. Perseroan akan fokus pada pembibitan sapi saat ini sebanyak 2.060 ekor. Tahun depan investasi akan dikucurkan untuk bisnis penggemukan sapi kemungkinan akan ada penambahan, termasuk untuk penambahan jumlah sapi saat ini masih dalam proses. Kendati demikian, pihaknya belum menentukan besaran angka untuk tambahan sapi.

Perseroan mengalokasikan anggaran belanja modal (capital expendicture/capex) tahun depan diperkirakan sebesar Rp 2,5 triliun. Alokasi capex sekitar 30 persen akan dipakai untuk kegiatan plantation termasuk maintanance bagi tanaman belum menghasilkan namun harus terus dirawat. Lalu, untuk replanting program atau penanaman kembali sekitar 3.500 ha. Kemudian 20 persen untuk pembangunan pabrik baru dan 35 persen untuk non plantation activities seperti pembangunan infrastruktur, perumahan karyawan, alat berat, dan struktur infrastruktur seperti jembatan dan sebagainya.

Berdasar rencana, perseroan akan membangun pabrik kelapa sawit di Kalsel. Pabrik baru itu akan memproduksi 45 ton tandan buah segar (TBS) per jam. Dan untuk pabrik refinery pengolahan CPO, berlokasi di Sulawesi Barat (Sulbar) berkapasitas 2.000 ton per hari. Lalu, joint venture (jv) dengan Kuala Lumpur Kepong Bhd., di Dumai berkapasitas 2.000 ton per hari dengan kepemilikan perseroan 50 persen yang berarti 1.000 ton per hari. ”Jadi, total kapasitas pabrik refinery kami saat ini 3.000 ton per hari,” tukas Rudy. (far)

Komentar telah ditutup.