Fokus

Dukung Pangan Nasional, Kembangkan Padi Organik

Redaktur:
Dukung Pangan Nasional, Kembangkan Padi Organik - Fokus

INDOPOS.CO.ID – Salah satu lumbung padi nasional pantas disandangkan kepada Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Sedikitnya 630 ribu ton beras yang surplus dikirim ke luar daerah itu untuk men-support kebutuhan pangan nasional. “Produksi padi kita mencapai 783 ribu ton kering giling (KG), sedangkan konsumsi daerah cuma 150 ribu ton. Selebihnya kita kirim ke luar daerah,” kata Bupati Ngawi Ir Budi Sulistiyo saat panen raya padi organik Kelompok Tani “Lawu Subur” di Dusun Gatak, Desa Keletek, Kabupaten Ngawi, kemarin. Tahun ini, target produksi Ngawi memang terlampaui. Dari target 770 ribu ton, realisasinya mencapai 783 ribu ton. Kenaikan produksi padi ini salah satunya disebabkan bertambahnya luas areal sawah yang ditanami, yang melampaui target 50.197 hektare. Penambahan areal tanam seluas 6.000 hektar lebih ber- impact terlewatinya target produksi padi di kabupaten berpenduduk 881.532 jiwa tersebut. “Ini masa bulan madu petani Ngawi,” kata Budi Sulistiyo. Produksi beras yang surplus, selain dipasok untuk kebutuhan beberapa daerah di Jawa Timur, juga dikirim ke luar provinsi, seperti DKI Jakarta, bahkan sampai ke Sumatera. “Kita telah menjadi salah satu sentra produksi padi nasional,” kata politisi PDIP itu. Selain itu, Ngawi juga tengah menggalakkan penanaman padi organik. Salah satunya yang terletak di Dusun Gatak. Ada seluas 20 hektare sawah telah siap panen di daerah yang terletak di kaki Gunung Lawu tersebut. “Ini panen yang ketiga petani daerah ini,” kata Sulistiyo. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi Ir Marsudi menyebutkan, penanaman padi organik sebenarnya lebih menguntungkan secara ekonomi. Sebab, nilai jualnya dua kali lipat dari padi non organik. Bila padi non organik dijual seharga Rp 7.000 perkilo, padi organik bisa mencapai Rp 14 ribu perkilo. “Masa tanamnya sama, sekitar 3,5-4 bulan, begitu juga produksinya sekitar 6 ton per hektar,” kata Marsudi. Selain itu, hama yang mengganggu juga tak banyak. “Hamanya (padi organik) cuma tikus,” katanya. Sedangkan padi non organik risikonya lebih tinggi, bisa diserang oleh lima jenis hama. Seperti hama wereng coklat, penggerek batang dan tikus. Lantas kenapa petani masih enggan beralih ke padi organik? Menurut Marsudi karena ada risiko selama masa peralihan. Saat penanaman pertama, produksinya bisa turun 50 persen. Masa tanam kedua menjadi 25 persen. Baru masa tanam ketiga produksi menjadi stabil. “Mungkin ini yang memberatkan petani,” ujarnya. Sebab itu, bila memang berniat mengembangkan padi organik harus ada skema subsidi bagi petani di dua masa tanam tersebut. (riz)

Berita Terkait

Nasional / Bawang dan Tomat Dipasok dari Luar

/ Polda Sita 18,9 Ton Bawang Merah India

/ Cuaca Tak Menentu, Harga Sayuran Melambung Tinggi

Nasional / Harga Cabai dan Bawang Terus Meroket

/ Lebih Murah, Cabai Asal Malaysia Laris di Pasaran

Nasional / Wow! Harga Tomat-Bawang Merah Naik Turun


Baca Juga !.