Opini.id Usung #GenerasiWARBYASAK

INDOPOS.CO.ID– Opini.id berkomitmen untuk terus menyampaikan dan memfasilitasi kepedulian dan kebaikan pada masyarakat. Untuk mewujudkan komitmen tersebut, kali ini Opini.id menggelar program #GenerasiWARBYASAK.

“Kami memiliki misi untuk membuat orang menjadi tambah peduli dan tergerak untuk berbuat baik dan memperbaiki yang kurang baik. Untuk itu, Opini.id mengajak anak muda untuk berkarya melalui video dan program #generasiWARBYASAK,” kata User Acquisition Manager Opini.ID Risang B. Dhananto di ajang Power Lunch yang diselenggarakan GDP Ventures di Jakarta, Selasa (15/11).

Program #GenerasiWARBYASAK adalah gerakan moral anak muda dengan 4 pilar nilai yaitu; Berani, Peduli, Jujur dan Kreatif. Program ini berlangsung selama 6 sampai 8 bulan ke depan dari sejak pertama kali diluncurkan pada 28 Oktober silam. Selama itu, program #GenerasiWARBYASAK akan mengadakan sejumlah eksperimen sosial, konten artikel, video content, community meet up, dan petisi.

Risang mengungkapkan, sejak dulu anak muda selalu menjadi penggerak perubahan di negeri ini. “Seperti diketahui bahwa sejarah berdirinya Indonesia ikut ditentukan oleh sejarah anak-anak mudanya. Kalau diurutkan sejak dari tahun 1908, 1928, 1966, 1974, sampai 1998 – anak muda Indonesia memiliki peran dalam sejarah bangsa. Opini.id ingin membawa lagi semangat positif itu, dari semangat itu bisa diwujudkan menjadi pemikiran dan perilaku yang membawa kemajuan juga,” kata Risang.

Dalam kesempatan yang sama, Risang juga memperkenalkan konsep ’homeless media’ yang kini diadopsi Opini.id. Dalam presentasinya Risang menjelaskan, ‘homeless media’ adalah sebuah konsep pemajangan konten di berbagai platform media termasuk di media sosial. Masing-masing platform memiliki native content (otonomi konten) yang sesuai dengan karakter dari platform dan target market yang biasa berada platform tersebut.

Konsep homeless media bukan soal menambah channel distribusi. Melainkan menambah channel media itu sendiri dan menjadikan platform sebagai media.

Misalnya, selama ini, media massa menggunakan media sosial untuk menyebarkan berita yang ada di halaman web utama media tersebut. Ketika tautan di media sosial di-klik, pembaca diarahkan ke halaman web untuk membaca konten lebih lengkap.

Sementara, homeless media memajang konten yang berbeda-beda di banyakchannel meskipun informasinya sama. Sebagai contoh, akun Opini.id di Facebook menayangkan video 1 menit tentang kebiasaan anak muda yang tidak pernah buang sampah setiap selesai makan di supermarket. Ini karena kebiasaan diskusi dan penyebaran di Facebook yang tepat untuk karakter video 1 menit dan bertema eksperimen sosial.

Di Instagram Opini.id, disebarkan foto atau gambar inspiratif tentang kebiasaan buang sampah. Di halaman utama web Opini.id, ditayangkan polling publik tentang kebiasaan anak muda buang sampah. Setiap konten disesuaikan dengan karakter channel-nya.

“Ke depannya, diprediksi akan muncul semakin banyak penyedia konten yang tidak hanya mengandalkan home pages atau aplikasi khusus. Sindikasi konten melaluiplatform sosial media juga dirasakan lebih efektif untuk menjangkau publik dan untuk membuka diskusi,” ujar Risang.

Seperti diketahui, kehadiran media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan platform media sosial lainnya kini menjadi sesuatu hal yang sulit terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Seakan menjadi sebuah kebutuhan. Tidak sedikit juga seseorang menggunakan lebih dari satu aplikasi media sosial sekaligus.(Muhammad Solikin/*)

Komentar telah ditutup.