Mabes Polri Buru Inisiator Rush Money

INDOPOS.CO.ID – Isu penarikan uang tunai massal (rush money) menyedot energi. Pemerintah melalui Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri bakal menindak tegas dalang rush money tersebut. Menggandeng Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bareskrim berupaya mengejar pencetus isu rush money yang viral di media sosial (medsos).

Rush money diinisiasi organisasi keagamaan tertentu menyusul sikap pemerintah terhadap kasus penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Gubernur non aktif DKI Jakarta. Rush Money dimaksudkan untuk menggoyang ekonomi nasional, setelah pemerintah melarang aksi unjuk rasa besar-besaran. Karena itu, pihak kepolisian telah melacak 70 akun medsos diduga kuat melakukan provokasi menyebar isu terkait rush money.

Baca Juga :

Satu Lagi, Pengayuh Sepeda Jadi Korban Begal

”Kami telah mengidentifikasi penyebar isu rush money. Bersama BI dan OJK, kami sudah berdiskusi untuk melihat secara objektif kondisi perbankan. Seluruh isu rush money yang disebar sangat tidak tepat,” tutur Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Brigjen Bareskrim Polri Agung Setya.

Berdasar penyidikan awal, isu rush money dihembuskan berkaitan dengan rencana aksi demonstrasi pada 25 November dan 2 Desember mendatang. Aksi itu, berdasar rencana akan dilakukan kelompok tertentu dengan tujuan menghentikan langkah calon Gubernur petahana dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta. ”Hasil analisa kami, isu bertebaran di medsos berkaitan agenda 25 November dan 2 Desember. Jadi, kami akan telusuri siapa inisiator aksi provokasi tersebut,” tegas Agung.

Baca Juga :

Melalui BI dan OJK, Bareskrim juga telah mengantongi informasi umum terkait kondisi likuiditas dan keuangan perbankan nasional. Secara umum, kondisi perbankan tengah dalam kondisi baik. Dengan begitu, aksi penarikan uang ramai-ramai dari bank (rush) dianggap sebagai tindakan tidak logis dan hanya akan merugikan nasabah. Karena itu, berdasar data-data tersebut, Mabes Polri menilai rush money merupakan ajakan keliru. Apalagi, kondisi perbankan domestik masih sangat kuat dan kokoh. Tidak terjadi kekhawatiran terkait dengan likuiditas perbankan. Dengan demikian, diharap masyarakat menyikapi isu rush money secara proforsional. ”Masyarakat tidak perlu mengikuti karena merugikan diri sebagai nasabah,” harapnya. (far)

Komentar telah ditutup.