Kesadaran Membuat Akta Kelahiran Masih Rendah

INDOPOS.CO.ID – Pengurus panti asuhan untuk anak yatim kini bisa bernafas lega mengurus akta kelahiran gratis. Upaya itu untuk membantu anak panti memiliki hak sebagai warga negara Indonesia.

Sebanyak ratusan ribu akte kelahiran dibuat untuk anak panti asuhan oleh Institut Kewarganegaran Indonesia (IKI).”Sejak 2012 hingga 2016 sebanyak 226 ribu akta kelahiran yang di urus IKI,” kata Prasedyadji peneliti IKI kemarin.

Baca Juga :

Tambang Longsor, 11 Pekerja Tewas

Sejak tahun 2015 pihaknya memberikan solusi kepada anak yatim memiliki akta kelahiran.Upaya itu didukung dengan diterbitkan Peraturan Mendagri No 9 tahun 2016 tentang percepatan peningkatan cakupan kepemilikan akta kelahiran pada 29 Februari 2016 lalu.

Format akta kelahiran anak yatim piatu dibuat khusus. Anak-anak yang lahir dari orang tua yang tidak memiliki akta perkawinan tapi tercantum di Kartu Keluarga ditulis sebagai suami istri juga dibuat format khusus.

Baca Juga :

Nama ayah dicantumkan meski dengan syarat perkawinan belum dicatatkan di Catatan Sipil. Berita acara pemeriksaan dari Kepolisian dapat diganti dengan Surat Peryataan Tanggung Jawab ditandatangani kepala yayasan panti asuhan.

Kondisi anak-anak yatim berbeda dengan yang punya ornag tua dari hasil pernikahan. Mereka di panti asuhan hidup tanpa tahu orang tuanya siapa. “Akte kalahiran punya fungsi mendalam,” ucapnya.

Baca Juga :

Di Indonesia kesadaran orang tua membuat akta kelahiran masih rendah. Alasanya untuk mengurusi KTP KK itu terbentur dana. Padahal gratis pembuatan akta kelahiran itu gratis oleh pemerintah di daerah dan kota se Indonesia.

Kendala lain yang jadi alasan keluarga karena tidak mampu menyiapkan data. Padahal jika tercatat secara administrasi WNI maka harus punya KTP. Sebab, itu masyaraat Jangan takut berurusan dengan Disdukcapil.

Jika perempuan WNI menikah tetapi tidak resmi maka tidak memiliki akta pernihkan. Hal tersebut merugikan perempuan. Sementara, Lucia Fidelia wuwungan Ketua yayasan Tunas Mahardika BSD mengatakan, sebanyak 12 anak asuhnya kini sudah memiliki akta kelahiran resmi.

Selama diasrama anak-anak hidup dari bantuan masyarakat. Dibina oleh ibu asrama dan ada lima petugas yang setiap hari mengurus panti asuhan. Ia memiliki anak asuh usia Usia 7 -11 tahun.”Selama ini urusan birokrasi masih awam dipahami untuk membuat akta kelahiran. Sekarang anak asuh kami memiliki akta kelahiran yang sangat bermanfaat bagi masa depan mereka kelak,” ucapnya.

Berdiri sejak 2005 lalu panti asuhan menampung anak yang tidak memiliki keluargam. Mereka ditinggal di rumah sakit. Ada pula yang ditinggal orang tuanya di panti asuhan. Demi menopang hidup biaya sekolah selama ini di dapat dari donasi para donatur.

Selanjutnya, orang tua asuh memberikan donasi kepada orang tua sekolah. Anak panti itu tidak hanya mendapat pendidikan formal. Tetapi juga diberikan keterampilan lainnya. Di antaranya, les balet, piano vokal, futsal.

Meskipun fisik mereka tampak sehat, namun mental anak-anak itu tiga diantaranya berkebutuhan khusus. Mereka dibina suvervisor untuk dibina dan belajar sampai lulus sekolah. Menghantarkan anak-anak jadi hidup mandiri dimasa mendatang kelak. (yer)

Komentar telah ditutup.