Bank Minta Usaha Mikro Miliki Jaminan Pembelian

INDOPOS.CO.ID–Kredit mikro masih menjadi sektor yang menguntungkan meski risikonya lebih tinggi. Perbankan membutuhkan jaminan untuk meyakinkan kinerja debitor membaik sehingga risiko kredit bermasalah dapat ditekan.

Direktur Ritel Bank Mandiri (BMRI) Tardi menjelaskan, bank akan merasa lebih aman dalam menyalurkan kredit mikro jika nasabah mempunyai off-taker yang menjamin pembelian produk yang dihasilkan nasabah mikro. ”Kami mencari off-taker-nya supaya flow barang dan uang lancar. Misalnya, nelayan punya off-taker, hasil tangkapannya ada yang (pasti, Red) membeli, uang lebih terkendali,” katanya setelah penandatanganan nota kerja sama dengan Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) (25/11).

Baca Juga :

Demikian pula pada sektor pertanian. Bank berharap ada off-taker yang jelas. Dengan begitu, ketika komoditas dipanen, petani sudah mendapat kepastian pembelinya. Tardi mencontohkan petani tebu diharapkan memiliki off-taker berupa pabrik gula BUMN atau swasta.

Dengan demikian, risiko petani gagal membayar angsuran karena hasil pertanian tidak terjual menjadi minimal. ”Value chain (rantai usaha, Red) tidak putus dan risiko (kredit, Red) bisa ditekan,” lanjut Tardi.

Baca Juga :

Kasus Nurhadi Mengarah ke Dugaan TPPU

Kredit bermasalah pada sektor mikro Bank Mandiri saat ini berada di kisaran 4 persen. Untuk menekan angka tersebut, Mandiri membutuhkan kerja sama dengan perusahaan penjaminan kredit. Tahun ini pertumbuhan kredit mikro ditargetkan 20 persen. Kredit mikro memang berpotensi tumbuh lebih tinggi daripada pertumbuhan kredit secara keseluruhan karena permintaan kredit mikro saat ini memang cukup tinggi.

Khusus kredit usaha rakyat (KUR) yang menjadi salah satu kontributor kredit mikro, Bank Mandiri yakin kuota KUR sebesar Rp 13 triliun dapat tersalurkan. Hingga Oktober lalu, KUR yang telah disalurkan mencapai Rp 11 triliun. Hingga akhir tahun, target penyaluran KUR diyakini bisa tercapai karena Bank Mandiri menyasar banyak sektor srategis.

Baca Juga :

Rockets Punya Pelatih Baru

”Kami masuk ke pembiayaan produktif. Kredit serbaguna juga produktif. PNS, pegawai swasta, anggota TNI, dan Polri itu kan ambil pinjaman tidak untuk foya-foya. Pasti untuk sesuatu yang produktif. Mungkin buka warung, bikin kos-kosan, renovasi rumah,” jelas Tardi.

Untuk dapat mengembangkan kredit mikro, penjaminan sangat dibutuhkan. Pada periode Januari–Oktober 2016, Bank Mandiri menyalurkan kredit mikro Rp 30,4 triliun atau meningkat 14,3 persen jika dibandingkan dengan Oktober tahun lalu. Dari nilai tersebut, kontribusi kredit serbaguna mikro mencapai 28,3 persen atau Rp 8,6 triliun. 70 persen portofolio kredit Bank Mandiri merupakan kredit produktif.

Mandiri berupaya memastikan porsi kredit mikro dapat mencapai 60 persen terhadap total kredit produktif. ”Sesuai arahan pemerintah, KUR didorong ke sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Sektor-sektor itu risikonya lebih tinggi. Untuk mitigasi risiko, kami mencoba dengan konsep inti plasma,” terangnya.

Direktur Utama Askrindo Budi Tjahjono menyatakan, kerja sama dengan Bank Mandiri merupakan sinergi BUMN untuk mendukung penjaminan kredit serbaguna mikro. Nanti, kerja sama tersebut dapat meningkatkan pelayanan kredit Bank Mandiri dan memitigasi risiko yang dapat ditimbulkan. (rin/c5/noe/JPG)

Komentar telah ditutup.