Pemodal Pelototi Kebijakan Trump

INDOPOS.CO.ID-Bank Indonesia (BI) meramal suku bunga The Federal Reserve (the Fed) kemungkinan besar akan naik bulan depan. Persentase kenaikan diprediksi mencapai 98 persen. Tetapi, tidak perlu waswas karena lonjakan Fed rate itu sudah masuk kalkulasi pelaku pasar.

Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo langkah itu sudah sangat kondusif. Perlu diwaspadai selanjutnya kebijakan Presiden baru Amerika Serikat (AS). Sebab kalau AS menutup diri akan berdampak pada ekspor China dan juga berimbas ke Indonesia. ”Kenaikan Fed rate itu sudah dikondisikan secara kondusif,” tutur Agus.

Baca Juga :

Agus melanjutkan, ekspor Indonesia ke Negeri Paman Sam tergolong cukup besar, yaitu 11 persen. Dengan kondisi AS berpotensi menutup diri akan memiliki efek ke perekonomian negara berkembang (emerging market) macam Indonesia. ”Ekspor Indonesia 11 persen menjadi perhatian. Kenaikan suku bunga The Fed akan memantik mata uang US Dollar (USD) menguat dan mata uang negara berkembang melemah,” ucap Agus.

Menurut Agus, BI sudah mengamati situasi terjadi di luar negeri. Di mana, pertumbuhan ekonomi AS juga tidak sebaik tahun lalu. Meski begitu, rona optimisme investor kepada Donald Trump tetap memancar. ”Kondisi eksternal patut diperhatikan. Semua perkiraan setahun ini, perekonomian AS 1,6 persen,” ujarnya.

Pelaku pasar di lantai bursa sejatinya tengah menunggu teknis pelaksanaan kebijakan Donald Trump. Kebijakan Trump itu dimata investor sangat penting. Sebab, arah kebijakan itu akan menjadi petunjuk pelaku pasar dalam mengatur portofolio investasi. Kalau misalnya, kebijakan Trump pro pasar, tentu akan sedikit mendinginkan suasana. Nah, yang ditakutkan, Trump mengambil langkah radikal yang membuat investor tidak tenang menanam investasi. (far)

Komentar telah ditutup.