Saham BUMI Menjadi Incaran Pemodal

INDOPOS.CO.ID-Transaksi saham Bumi Resources (BUMI) kembali semarak. Itu terjadi menyusul permohonan perdamaian penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) disetujui pengadilan. Dengan begitu, sementara manajemen bisa bernapas lega dari jebakan total utang sejumlah Rp 135,78 triliun.

Alhasil, lalulitas saham sejuta umat itu dilantai bursa efek Indonesia (BEI) beredar kencang. Dalam perdagangan kemarin, saham BUMI menanjak 3,55 persen menjadi Rp 292 per lembar. ”Selama ini BUMI dibelit banyak utang dan kesulitan untuk melunasi. Dengan penundaan itu, manajemen punya waktu untuk berbenah,” tutur Ekonom Samuel Sekuritas Muhammad Al Fatih.

Baca Juga :

Sabar, Subsidi Gaji Tahap II Cair November

Harga saham BUMI sempat melejit 4,96 persen seiring pembelian sejumlah broker asing. Pada 14:40 WIB, harga saham BUMI mencapai Rp 296, atau naik 14 poin dibanding penutupan akhir pekan lalu di kisaran Rp 282. Sebanyak 1,04 miliar saham BUMI berpindah tangan dengan total transaksi senilai Rp 305 miliar.

Sejumlah broker memborong saham pertambangan terafiliasi Bakrie Group tersebut. Maybank Kim Eng Securities (ZP) memboyong tercatat 775.277 lot dengan transaksi (net buy) Rp 22,3 miliar. Pembeli bersih kedua Mandiri Sekuritas (CC) sebanyak 402.908 lot saham senilai Rp 12 miliar. Selanjutnya, Hasta Dana Sekuritas Indonesia (HD) juga menyapu saham BUMI sebanyak 307.500 lot sejumlah Rp 9,1 miliar.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan Bumi Resources Dileep Srivastava mengatakan kuasa hukum perseroan sudah mengkonfirmasikan pengadilan PKPU telah mengesahkan pemungutan suara dan rencana restrukturisasi utang dilakukan pada 9 November lalu. ”Pernyataan formal tertulis diharapkan akan terbit pada 30 November 2016,” tutur Dileep melalui pesan singkat.

Sekadar diketahui, utang BUMI itu ditukar saham senilai Rp 926,16 per lembar. Perusahaan menggunakan perhitungan ekuitas bersih sejumlah USD 4,6 miliar dari hasil valuasi internal. Manajemen BUMI menawarkan jalan keluar pada pemberi utang dengan mengonversi utang menjadi saham.

Dengan begitu, struktur pemegang saham akan berubah. Para pemberi utang otomatis akan menjadi pemegang saham BUMI. Perubahan pemegang saham juga akan diikuti perubahan struktur manajemen.

Kondisi itu menjadi sentimen positif bagi pergerakan harga saham BUMI, karena manajemen tidak sekadar dipegang Bakrie Group. ”Jadi, dari segi manajemen dan keuangan ada perbaikan,” tambah Al-Fatih.

Selanjutnya, fundamental perusahaan diprediksi membaik. Terlebih dengan lonjakan harga batu bara dari tahun-tahun sebelumnya. Kemudian koreksi rupiah menjadi sentimen positif bagi performa perusahaan. Dengan sejumlah indikator itu, tidak mengherankan kalau harga saham dan kinerja perusahaan berpotensi membaik.

Menilik laporan keuangan BUMI per Juni 2016, utang pokok BUMI pada kreditur separatis di luar China Development Bank (CDB) mencapai USD 2,5 miliar. Sementara utang pokok BUMI kepada CDB menyentuh level USD 550 juta. (far)

Komentar telah ditutup.