Rabu, 21 November 2018 11:29 WIB
pmk

Megapolitan

Pernikahan Turun, Perceraian Meningkat

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Meski pernikahan dini masih terjadi, namun secara garis besar angka pernikahan tiap tahun di Kaltim mengalami penurunan. Penyebabnya, tak sedikit masyarakat yang memilih mendahulukan pendidikannya ketimbang menikah terlebih dahulu. 

 

Namun, penurunan pernikahan justru berbanding terbalik dengan angka perceraian. Sehingga, banyak masyarakat yang berstatus tanpa pasangan di Kaltim. Sistem Informasi Geografi Kependudukan dan Catatan Sipil per 30 Desember 2015 melansir, dari 3.369.666 jumlah penduduk di Kaltim, yang belum menikah sebesar 1.688.670 jiwa. 

 

 

Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, dari 2011 hingga 2015, penurunan jumlah pernikahan hampir menyentuh angka 10 ribu. Sebelumnya, pada 2011 pernikahan mencapai angka 30 ribuan per tahun. Sedangkan, pada 2015 angka pernikahan tercatat di kisaran 20 ribu. Meski angka pernikahan menurun, angka perceraian malah meningkat. Perceraian pun lebih banyak  gugat cerai dibandingkan talak. Ini menunjukkan, lebih banyak perempuan yang meminta cerai.

 

Psikolog Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Atma Husada Mahakam, Ayunda Ramadhani menuturkan, fenomena ini disebabkan perempuan saat ini lebih berani. Dibandingkan zaman dahulu, perempuan dituntut untuk selalu patuh terhadap suami dan tidak boleh membantah. Mereka umumnya hanya berstatus ibu rumah tangga. Yang artinya biaya hidupnya bergantung suami. 

 

Berbeda saat ini, karena tak sedikit perempuan yang memilih berkarier. “Artinya secara finansial mereka merdeka. Sehingga, ketika ada hal yang tidak diinginkan misalnya (terjadi) KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), cekcok dan sebagainya. Mereka tak segan meminta bercerai,” ungkapnya.

 

Memang, sambung dia, tak bisa dimungkiri jika perceraian akan mengorbankan anak. Maka dari itu, jika pasangan sedang emosi, ada baiknya mengingat komitmen menikah dari awal. Ketika sedang di puncak cekcok, lebih baik menenangkan diri masing-masing dahulu. Sehingga, bisa berpikir jernih. Minimal, kata dia, bisa menarik napas panjang dan dalam.

 

“Sehingga, jika memang ada keputusan bercerai. Memang dari buah pemikiran matang. Bukan karena keputusan emosional,” imbuhnya. Mengingat, keputusan emosional bisa berdampak negatif. Apalagi, jika perceraian dan akhirnya bermusuhan akan membuat anak mendapat imbas psikis yang lebih berat daripada perpisahan kedua orangtuanya. 

 

Ayunda melanjutkan, sebelum menikah, lebih baik pasangan menyepakati komitmen. Mereka harus memperkirakan apa saja hal terburuk yang terjadi dan bagaimana penanganannya. Dengan begitu, akan meminimalisasi dampak konflik. Yang paling penting, ungkapnya, membuat perjanjian pranikah sangat disarankan. (*/nyc/riz/k15/JPG)

 

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #peristiwa 

Berita Terkait

Preman Uzur Gagahi Siswi SMP hingga Hamil

Megapolitan

5 Pembunuh Khashoggi Dituntut Mati

Internasional

Stop Bunuh Gajah!

Headline

Korban Keracunan Masal Jadi 102 Orang

Megapolitan

Saling Bantah Penahanan Bayi di RSUD

Jakarta Raya

Israel Bunuh Panglima Al-Qassam

Internasional

IKLAN