Selasa, 25 September 2018 06:49 WIB
pmk

Megapolitan

Desa Langganan Banjir, Warga Protes dengan Cara Unik

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - MASALAH banjir di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, belum juga teratasi. Setiap musim penghujan datang, wilayah pariwisata di kawasan Buleleng Barat ini selalu kebanjiran. Ironisnya banjir itu terjadi tepat di tengah-tengah pusat desa, dan berada di tengah pusat aktifitas kegiatan pariwisata di Desa Pemuteran.

EKA PRASETYA, BULELENG

Buktinya Jumat (2/12) kemarin, Desa Pemuteran kembali kebanjiran. Jalan Raya Singaraja-Gilimanuk terendam banjir hingga setinggi lutut orang dewasa. Ironisnya banjir terjadi setelah desa ini menjadi tuan rumah Buleleng Bali Dive Festival (BBDF) pada bulan Oktober lalu. Banjir dilaporkan terjadi di tiga titik, yakni di depan Mini Market Tirta Luhur, di depan Tirta Sari Spa, serta di kawasan Sendang Desa Pemuteran. 

Banjir bukan hanya membawa material air. Namun juga membawa lumpur, pasir, hingga batu kali dari arah perbukitan. Tak sedikit pengendara motor atau mobil yang nekat menerobos banjir, namun kesulitan menyeberang dan kendaraannya harus mogok. Warga setempat pun gotong royong membantu mengevakuasi kendaraan-kendaraan yang mogok. 

Musibah banjir memang sudah menjadi langganan di Desa Pemuteran. Sepanjang tahun 2016 ini, sudah tak terhitung beberapa kali banjir merendam jalan raya. Pada saat-saat tertentu, banjir bisa terjadi bahkan saat kondisi terang benderang. Hujan di kawasan perbukitan juga bisa berujung banjir di pusat desa. Meski sudah langganan, belum ada tanda-tanda akan dilakukan penanganan dalam waktu dekat ini.

Warga setempat sebenarnya sangat gelisah dengan musibah tersebut. Lantaran banjir selalu terjadi di pusat lokasi wisata. Warga dan pelaku wisata khawatir hal itu akan berdampak pada pariwisata di desa setempat, yang kini tengah menggeliat. Material banjir juga dikhawatirkan merusak terumbu karang yang sudah dilestarikan warga selama belasan tahun terakhir.

Warga juga punya cara tersendiri mengekspresikan kekecewaannya. Kemarin warga menggelar atraksi surfing di tengah jalan raya, saat ketinggian air sudah mencapai 30 centimeter. Sebelumnya pada bulan Februari silam, warga juga sempat menggelar aksi snorkeling atau menyelam di lokasi banjir. Aksi itu disebut sebagai kritik kepada pemerintah karena belum juga ada penanganan serius. Padahal Desa Pemuteran memberikan pemasukan yang cukup besar dari Pajak Hotel dan Restoran (PHR).

“Lokasi banjirnya masih sama seperti dulu. Belum ada perubahan. Kalau terus seperti ini, kami khawatir wisatawan jadi sepi. Hal seperti ini kan jadi promosi buruk buat pariwisata di Pemuteran. Kalau sudah sepi, bukan warga di sini saja yang rugi. Pemerintah juga rugi karena nggak ada yang bisa bayar pajak,” keluh Putu Hendra Prayoga, salah seorang warga.

Anggota Komisi II DPRD Buleleng, Ketut Mertiyasa secara terpisah menyatakan banjir memang menjadi masalah bagi pengembangan pariwisata di Desa Pemuteran. Pria yang juga berasal dari Pemuteran ini menilai, banjir harus segera diatasi apabila pemerintah ingin mengembangkan pariwisata di Bali Barat.

Menurut Mertiyasa masalah banjir bukan hanya memberikan penilaian buruk di mata wisatawan yang tengah berlibur. Banjir juga terancam merusak terumbu karang karena membawa material lumpur. Apabila lumpur menyelimuti terumbu karang, maka terumbu karang bisa mati. Padahal nilai terbesar pariwisata di Desa Pemuteran adalah pesona bawah lautnya, alias keindahan terumbu karang.

Selain itu momen banjir yang terjadi saat ini dianggap sangat buruk dan merugikan citra pariwisata di Buleleng. Karena bulan ini dinilai sebagai bulan high season pariwisata di Bali, termasuk di Buleleng. Banjir yang terjadi pada high season akan menjadi catatan merah bagi wisatawan yang berlibur di Pemuteran.

“Kalau banjir tetap terjadi, hal itu kan sangat menghambat wisatawan yang ingin berlibur. Kami harap biar cepat ditanggulangi masalah-masalah ini,” tegas Mertiyasa. (eps/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #banjir # 

Berita Terkait

Dua Kabupaten Tenggelam

Nusantara

Aceh Jaya Dilanda Banjir, 640 Warga Mengungsi

Nusantara

IKLAN