Minggu, 23 September 2018 11:51 WIB
pmk

Megapolitan

Ahli Bahasa Disidangkan karena Kasus Pencurian

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Selama menjadi gaet terdakwa mengelilingi hampir semua benua Eropa dan Negara-negara yang bahasanya di ketahui. Pengalaman ini yang membuatnya mengaku menguasai 20 bahasa asing dari Negara-negara yang pernah ia singgahi.

Iskandar Ishar

SIDANG yang berlangsung di PN Sorong dumulai pukul 14.00 WIT, Selasa (29/11), tak terlalu ramai. Sidang kasus-kasus ringan itu terlihat sepi. Beberapa jadwal sidang bahkan harus ditunda, karena alasan saksi tidak hadir.

Usai sidang kedua perkara pencurian, tiba-tiba mendengar suara Jaksa Busran, SH memanggil penjaga tahanan.  “Ais, Ais. bawa terdakwa Marthinus Birif kesini mau sidang,”katanya memanggil dan memberi perintah. 

Penasaran dengan persidangan yang memang saya tunggu-tunggu. Sebab, informasi yang saya peroleh, terdakwa ini mengaku menguasai 20 bahasa asing dari Negara-negara lain. Memang sengaja menunggu untuk melihat seperti apa penguasaan bahasa yang diakui terdakwa. Apa lagi, menurut Jery (pengawal tahanan), pengakuanya cukup meyakinkan.

Terdakwa ini mengaku pernah menggeluti pekerjaan sebagai gaet bule itu. Namun, kasus pencurian telah membuatnya harus duduk dikursi pesakitan. Pasal 363 Ayat (1) KUHP untuk sementara menghentikan aktifitasnya.

Sidang perdana terdakwa Marthinus Birif dipimpin oleh hakim Dinar Pakpahan, SH, MH yang dibantu oleh hakim anggota Rais Hidayat, SH bersama JPU Busran, SH yang akan membacakan dakwaan pada sidang tersebut.

Usai dibacakan dakwaan oleh JPU, hakim yang rupanya sudah mendengar cerita tentang penguasasan bahasa ini langsung menguji pengetahuan terdakwa dengan cara berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Selaian itu bahasa Jawa dan beberapa bahasa lain yang dilontarkan oleh hakim terhadap terdakwa selalu ditanggapi dengan baik.

Hakim yang dengan wajah heran langsung menguji terdakwa dengan beberapa kata dari bahasa Prancis. Seperti menanyakan makan, minum dan nama. Setelah mendengar pertanyaan hakim terdakwa langsung menanggapinya dengan menggunkana bahasa Prancis pula. Namun terdakwa memilih untuk tidak lanjutkan tanya jawab dengan menggunakan bahasa asing karena baginya dirinya hadir untuk menjalani proses persidangan atas perkara pencurian yang dituduhkan padanya.

Setelah persidangan dengan agenda dakwan berakhir terdakwa pun langsung diarahkan masuk dalam sel penitipan tahanan Pengadilan Negeri (PN) Sorong. Dengan rasa penasaran, saya pun langsung meminta ijin kepada penjaga tahanan untuk berbincang dengan terdakwa. Dengan senang hati penjaga mempersilahkan saya untuk bisa bercakap dengan Marthinus Birif secara bebas.

Saat berbicara dengan terdakwa yang dibatasi teralis besi sel tahanan itu, terdakwa menceritakan bahwa dia sesungguhnya tidak bersalah. Karena saat ditangkap pada tanggal 8 September saat itu dirinya dari Ambon dengan menggunakan kapal Sinabung untuk ke Jayapura untuk melihat Ibunya di kampung Asmat.

Namun karena kapal berlabuh di pelabuhan terlalu lama, ia memutuskan untuk turun mencari Bir agar diminum selama perjalanan ke Jayapura. Saat terdakwa turun dan bertanya kepada tukang ojek mengenai toko penjual Bir, dia disarankan untuk ke Aimas.

 “Disini sudah tidak yang jual Bir karena sudah perda,”katanya sambil meniru tukang ojek itu.

Kemudian diapun naik angkot ke terminal. Setibanya di terminal terdakwa kemudian bertemu dengan seorang supir angkot jalaur Aimas, dengan berkat pengetahuanya dengan menggunakan bahasa Jawa akhirnya terdakwa bercakap dengan sopir Aimas itu dan langsung berjalan menuju Aimas untuk membeli Bir.

Namun setelah balik ke pelabuhan kapal sudah berangkat, dengan terpaksa dirinya meminta sopir tersebut untuk mengantarkannya kembali ke Terminal Remu. Ia berniat untuk menginap di Penginapan Srikandi.

Setela itu bertemu dengan seorang temanya dan diajak untuk tidur di rumahnya di Aimas. Keesokan harinya dirinya dituduh mencuri sebuah laptop dan barang milik orang yang mengajaknya untuk tidur tersebut lalu kemudian dilaporkan ke Polsek Aimas dengan tuduhan pencurian.

Terdakwa Marthinus Birif lahir pada tanggal 25 Desember 1979 di Asmat. Pada tahun 1999 dirinya menempu pendidikan di Instutute Kesenian Bogor (IKJ) dengan jurusan Seni Rupa dan menamatkan studinya pada tahun 2004. Setelah tamat dengan dirinya memilih untuk belajar bahasa Inggris di Bali selama 3 bulan dan pada akhirnya menjadi gaet pada tahun 2015.

Selama dalam pengalamanya menjadi gaet dirinya hampir mengelilingi seluruh Negara di benua Eropa, mulai dari Belanda, Swedia, Ingris, Portugal, Jerman, Spanyol, Turkey dan bahkan sampai ke Rusia dan  Negara Amerika.

Untuk benua Asia sendiri seperti Negara-negara Filipina, Malaysia, Brunei, Singapore, Taiwan juga Australia dan Selandia Baru juga sempat kesana, namun baginya mengunjungi Negara seperti Taiwan, Thailand dan India seorang gaet biasanya penuh perhitungan karena nilai mata uangnya yang kecil.

Bahasa yang dikuasai oleh terdakwa adalah Cina, Jepan, Kamboja, Taiwan, Inggris, Belanda, Prancis, Spanyol, Portugal, Afrika dan beberapa Negara lain. Di Asia Tenggara.

Mendengar semua ceritanya saya pun bertanya, “Bagaimana kau belajar dan mengetahui semua bahasa dari Negara yang kau kunjungi”?. Menurutnya, kelahiranya yang tepat hari Natal membuat dia bertalenta untuk mengetahui semua bahasa.

Untuk bahasa Indonesia sendiri dia menguasai bahasa Sunda, Jawa, Makassar dan bahasa Key. Dirinya juga bercerita pernah sampai ke Ternate di Yonif 732 Banau. Dirinya mengatakan bahasa yang diucapkan terjadi dengan sendirinya asalkan ada yang berkomunikasi maka diapun akan mampu berkomunikasi seperti yang diinginkan penanya.

Selama berada di sel tanahan Lapas Sorong kerjanya setiap hari hanya melukis dan membuat bunga dari plastic sebagai hiburan. Ia sangat berharap proses perkaranya dapat dipercepat agar bisa pulang ke Asmat melihat ibunya yang sudah berusia tua.(***)


TOPIK BERITA TERKAIT: #boks # 

Berita Terkait

Ketika Cukai Rokok untuk BPJS Kesehatan

Nasional

Bayi Satu Mata Lahir di Mandailing Natal

Nusantara

Mengunjungi Museum Lukisan Tertua di Bali (2-Habis)

Nasional

IKLAN