Senin, 16 Juli 2018 07:47 WIB
bjb juli

Hukum

Aneh, Divonis 2010 Tapi Panitera Ini Tak Pernah Menjalani Hukuman

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

INDOPOS.CO.ID- Bukan karena operasi tangkap tangan atau disergap Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli), namun dieksekusi Kejaksaan Negeri (Kejari) Pontianak. Seorang panitera Pengadilan Tinggi (PT) Pontianak, Sukma Arbaini dijebloskan ke penjara, Kamis (1/12) pukul 05.00.

Rakyat Kalbar (INDOPOS GROUP) melaporkan, seharusnya, Panitera PT itu dijebloskan ke Lapas Klas II A Pontianak. Sukma Arbaini telah melakukan tindak pidana pemalsuan putusan terdakwa dalam perkara banding kasus penggelapan dalam jabatan pada 2008 silam.

Sukma Arbaini pun dilaporkan kepada penegak hukum, diproses dan terbukti bersalah. Panitera PT ini divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Pontianak dengan hukuman dua tahun penjara. Keberatan atas putusan hakim, dia banding di tempatnya bekerja (Pengadilan Tinggi). Akhirnya divonis satu tahun penjara pada 2010 silam.

Tidak ada upaya untuk kasasi. Namun panitera yang satu ini berlenggang tak menjalani hukuman selama satu tahun sesuai dengan putusan Pengadilan Tinggi Pontianak nomor: 389/PID/2009PT.PTK tanggal 15 April 2010. Hebatnya Sukma Arbaini bisa bebas berkeliaran selama enam tahun.

Pada 29 November 2016, Kajari Pontianak mengeluarkan perintah eksekusi terhadap Sukma Arbaini. Kasipidum Kejari Pontianak I Putu Eka Suyantha ditunjuk Kajari melaksanakan eksekusi pada 30 November 2016.

Mengingat terpidana ini adalah seorang wanita, I Putu Eka Suyantha tak membawa jaksa pria. Dia dieksekusi jaksa wanita. Namun sayang, ketika eksekusi dilakukan di kediamannya di Gang H. Saleh, Jalan Adisucipto, Pontianak Tenggara, Sukma Arbaini tak berada di rumahnya.

Kasipidum bersama dua jaksa wanita bawahannya melakukan eksekusi pada 1 Desember 2016 pukul 05.00. Tidak ada perlawanan, Sukma Arbaini langsung digiring dan dibawa ke Lapas Klas II A Pontianak untuk dijebloskan ke penjara. Dia harus menjalani hukuman selama satu tahun sesuai putusan pengadilan tinggi.

“Tidak ada perlawanan, yang bersangkutan merasa bersalah. Kemudian mengikuti kita untuk dimasukan ke dalam Lapas Klas II A Pontianak,” jelas I Putu Eka Suyantha.

Menurut I Putu Eka, kasus pemalsuan yang dilakukan Panitera Pengadilan Tinggi Pontianak itu berupa surat vonis di Pengadilan Tinggi pada perkara penggelapan dalam jabatan. Pemalsuan dokumen putusan itu berupa mengubah vonis, dari dua menjadi satu tahun.

Apakah saat itu ada fee yang diterima Suka Arbaini, sehingga dia melakukan penggelapan?

I Putu Eka yang baru menjabat Kasipidum Kejari Pontianak selama empat bulan terakhir ini mengaku tidak mengetahui persis. ”Ini kasus sudah lama, saya tidak tahu ada fee atau tidak, saya gak paham. Saya baru di sini. Eksekusi ini saya jalankan atas perintah Kajari,” tegasnya. (zrn/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN