Rabu, 19 September 2018 12:45 WIB
pmk

Nusantara

Sagu dan Jelutung Belum Bisa Saingi Kelapa Sawit

Redaktur:

BIBIT: Sejumlah pekerja tampak memelihara ratusan pohon sawit.

INDOPOS.CO.ID - Potensi tanaman sagu dan jelutung secara ekonomi tak akan mampu menandingi kelapa sawit apabila tanaman tersebut sama-sama dibudidayakan di lahan gambut. Karena itu, Badan Restorasi Gambut (BRG) diminta tidak mengarahkan petani untuk menanam sagu dan jelutung di lahan gambut.

”Jelutung maupun sagu memang cocok ditanam di lahan gambut, tetapi potensi ekonominya tetap jauh di bawah sawit. Jadi kebijakan BRG itu perlu dipertanyakan, karena baik jelutung maupun sagu itu secara ekonomi tidak feasible,” ujar Pakar Ilmu Tanah Prof Dr Ir Abdul Rauf di Jakarta, kemarin.

Dalam merumuskan kebijakan, lanjut dia, hendaknya BRG melihat secara komprehensif. Meski budidaya sagu maupun jelutung tersebut sukses, belum tentu bisa menyejahterakan masyarakat. Alasannya, pasar atau permintaan akan pati sagu dan getah dari kayu pohon jelutung saat ini masih kecil, sehingga harganya dipastikan akan murah.

”Itu dari sisi pasar. Belum yang dari sisi teknologi untuk mengolah pati sagu dan getah kayu jelutung saat ini juga belum siap. Intinya, perlu dana besar untuk mengembangkan kedua komoditas ini, sehingga hasilnya bisa feasible,” kata Abdul Rauf.

Dia menyarankan kepada pemerintah agar fokus saja terhadap komoditas yang selama ini telah terbukti memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini, sehingga tidak coba-coba mengembangkan tanaman lain yang belum tentu berhasil. ”Jadi jangan khawatir kalau tanam sawit di lahan gambut, gambutnya akan terbakar. Buktinya ada kebun sawit di lahan gambut, tapi tidak terbakar dan produksinya sangat bagus,” katanya.

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, pada dasarnya tanaman apapun dapat dikembangkan di lahan gambut dengan teknologi ekohidro farming. Sebagaimana UU No 12/1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman, petani bebas memilih tanaman apapun yang menguntungkan baginya. ”Saat ini pilihan petani ya sawit yang menguntungkan menurut petani. BRG dan siapapun harus menghormati pilihan petani itu,” katanya.

Menurut Tungkot, sagu dan jelutung belum ada bukti emperis menguntungkan petani. Buktinya, tidak ada petani yang mengembangkan kedua tanaman itu. ”BRG perlu membuktikan secara emperis bahwa sagu dan jelutung menguntungkan petani. Jika untung petani pasti pilih,” katanya.

Tungkot menambahkan, saat ini pasar untuk sagu dan jelutung belum ada atau tidak terjamin. Kondisi ini tidak seperti sawit di mana saja dan kapan saja petani dengan mudah bisa menjual TBS (tandan buah segar). Setiap minggu petani panen dan bisa menjual TBS, sehingga tersedia pendapatannya untuk membiayai keluarganya. Pendapatan tiap pekan tersebut berlangsung sampai 25 tahun ke depan. ”Apakah sagu atau jelutung mampu mengimbangi sawit dalam menghasilkan income seperti sawit tersebut? Belum dan tidak akan mampu,” tandasnya.

Sebelumnya, Deputi Penelitian dan Pengembangan BRG Haris Gunawan menjelaskan, tumbuhan potensial dari ekosistem rawa gambut tercatat sekitar 1.376 jenis. Dari jumlah itu 534 jenis di antaranya telah diketahui nilai manfaatnya. Selain itu banyak di antaranya memiliki kegunaan ganda dan 81 jenis dari hasil hutan bukan kayu sebagai sumber perekonomian utama.

"BRG akan fokus pada tanaman lokal. Hilirisasi sagu dan kelapa dalam akan menjadi kebijakan BRG dalam restorasi gambut," ucapnya.

Selain sagu, kelapa dalam, tanaman lokal lain yang adaptif di lahan gambut antara lain jelutung, ramin, nanas, gelam, nipah, gemor, geronggang dan sebagainya. Mayoritas tanaman ini membutuhkan banyak air, berbeda dengan sawit dan akasia yang ditanam dengan mengeringkan lahan gambut. (adn)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #bumn 

Berita Terkait

Hobi Gonta-ganti Direksi BUMN

Headline

IKLAN