Pesawat Berpenumpang 15 Polisi Diperkirakan Jatuh di Perairan Kepri

INDOPOS.CO.ID – Tragedi penerbangan kembali terjadi. Sebuah pesawat Polri berjenis Skytruck M28 P 4201 lost contact dan diprediksi jatuh di perairan antara Pulau Sebangka dan Mensanak, Kepulauan Riau (Kepri), kemarin (3/12).

Sesuai dengan manifes penumpang, pesawat yang diproduksi pada 2004 itu membawa 15 kru dan penumpang. Seluruh kru dan penumpang adalah anggota Polri. 

Baca Juga :

Pesawat lepas landas dari Bandara Pangkalpinang, Bangka Belitung, menuju Batam saat cuaca hujan deras. Pesawat berangkat pukul 09.24. Ada lima kru yang mengoperasikan pesawat, yakni AKP Budi Waluyo, AKP Tonce A. Manao, AKP Eka Barakah, Brigadir Joko Sujarwo, dan Briptu Mustofa. Lalu, ada sepuluh penumpang, yaitu Brigadir Erwin, Brigadir Samoko, Brigadir Joko Sungatno, Brigadir Endri L., Brigadir Suwarno, Bripda Eri, Bripda Angga, Bripda Rizal Ilmi, AKP Safran, dan AKP Munir.

Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar menjelaskan, setelah lepas landas pukul 09.24, pesawat kehilangan kontak sekitar pukul 10.15. Padahal, estimasi kedatangan pesawat di Bandara Batam sekitar pukul 10.58. Pesawat tersebut rencananya akan di-BKO (Bantuan Komando Operasi)-kan Batam. ”Pencarian dilakukan sejak lost contact terjadi,” ujar Boy.

Baca Juga :

Hasilnya, dalam beberapa jam, ternyata ada informasi dari nelayan yang menemukan sejumlah barang yang mungkin berasal dari sebuah pesawat. Setelah dicek, ternyata benar didapatkan bagian kursi pesawat, tas, dan sejumlah dokumen pesawat. Bukan hanya itu, ditemukan juga baju dinas polisi dan kartu identitas yang menyebutkan bahwa pemiliknya adalah anggota kepolisian. ”Maka, diprediksi pesawat itu jatuh di antara Pulau Sebangka dan Mensanak, Kepri, dengan titik koordinat JP32 0”17,246N utara selatan 104”50,261E barat timur,” ungkap Boy. 

Pencarian yang terus dilakukan belum menemukan titik tepat lokasi jatuh pesawat. Namun, dengan ditemukannya serpihan pesawat dan sejumlah barang lain yang terkait, diharapkan secepatnya lokasi jatuh dapat diketahui. ”Kru dan penumpang juga belum ditemukan,” ucap Karopenmas Divhumas Mabes Polri Rikwanto.

Baca Juga :

Satu Lagi, Pengayuh Sepeda Jadi Korban Begal

Pencarian gabungan, terang Rikwanto, terus dilakukan Polri, Basarnas, dan TNI-AL. Semua dikerahkan untuk bisa menemukan pesawat dan penumpang. ”Kami berharap para korban masih selamat,” ujarnya. 

Deputi Operasi dan Latihan Bakamla Laksda TNI Andi Achdar menyampaikan, kondisi cuaca sedang tidak bersahabat saat kejadian. Hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Selat Karimata. ”Memang sedang musimnya. Di wilayah Natuna dan sekitarnya memang sedang tidak bersahabat cuacanya dalam beberapa waktu ini,” jelasnya kepada koran ini kemarin. 

Kendati demikian, imbuh Andi, tidak dapat serta-merta disimpulkan, kondisi itu merupakan penyebab hilangnya pesawat milik Polri tersebut. Sebab, dalam dunia penerbangan, terdapat teknologi untuk mendeteksi kondisi cuaca. ”Selain itu, biasanya pilot memiliki kecakapan untuk memperkirakan apakah itu bisa ditembus atau tidak,” ungkapnya. 

Hingga saat ini pencarian masih berlanjut. Belum ada tanda-tanda ditemukannya korban. Namun, sudah berhasil ditemukan beberapa barang yang diduga bagian dari pesawat nahas tersebut. Barang-barang yang ditemukan nelayan itu meliputi kursi-kursi, tas-tas penumpang, dan dokumen berisi surat perintah Sprin/1495/XI/2016 tanggal 30 November 2016 yang dikeluarkan di Pondok Cabe dan dokumen yang bertulisan Skytruck M28 noreg P 4201. ”Dari Bakamla, dikerahkan dua kapal untuk membantu tim Basarnas. Salah satunya KM Bintang Laut. Saat ini sudah di lokasi,” jelasnya. 

Kondisi yang sama disampaikan Kasubbag Hubungan Pers, Media, dan Publikasi Basarnas M. Yusuf Latif. Hingga berita ini ditulis, pencarian masih terus berlangsung. ”Ada tim SAR Tanjungpinang yang sudah di lokasi,” ungkapnya. 

Dari hasil koordinasi, posisi hilang kontak diperkirakan sekitar 40 NM tenggara dari Tanjungpinang, Kepri. Pesawat sebelumnya terbang pada ketinggian 5.000 kaki sebelum akhirnya dinyatakan hilang.

Kondisi cuaca yang tidak baik diamini Heriyanto, 28. Nelayan asal Desa Mantang Baru, Kecamatan Mantang, Kabupaten Bintan, Kepri, itu menjelaskan, hujan deras sudah mengguyur wilayah tersebut mulai subuh. ”Saya putuskan tetap melaut. Sampai akhirnya sekitar pukul 09.00 pagi sudah mulai reda. Angin juga sudah tenang, tapi memang masih terlihat awan tebal,” terangnya. 

Suasana syahdu setelah hujan tiba-tiba berubah di perairan antara Pulau Sebangka dan Mentang itu. Sekitar pukul 10.00, pria yang akrab disapa Heri tersebut mendengar gemuruh kencang. Begitu terasa dekat dengan posisi mereka saat itu. ”Bunyinya kayak pesawat mau lepas landas. Tapi, ini ke bawah. Berasa dekat,” ungkapnya.  (idr/mia/muf/JPG/c9/nw)

Komentar telah ditutup.