Senin, 24 September 2018 05:22 WIB
pmk

Internasional

Kian Banyak Berita Hoax Beredar di Dunia Maya

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Pesatnya perkembangan media sosial (medsos) belakangan ini kian mengaburkan batas antara kebenaran dan kebohongan. Melalui internet, fake news alias berita abal-abal atau hoax mudah tersebar luas. Dampak penyebaran kepalsuan secara masif di dunia maya itu pun mengguncang realitas. 

KEMENANGAN Donald Trump dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika Serikat (AS) pada 8 November langsung memunculkan keberadaan fake news di radar banyak media. Sejumlah pengamat menyebut berita abal-abal tentang dua calon presiden (capres) ketika itu sebagai faktor utama yang mengantarkan Trump ke Gedung Putih. Publik pun kemudian menyoroti Facebook sebagai fasilitator peredaran kepalsuan tersebut.

Tuduhan bahwa Facebook memberikan banyak ruang pada kubu Trump dan para fans garis kerasnya pun membuat Mark Zuckerberg angkat bicara. Kendati mengizinkan capres Partai Republik itu menyiarkan "berita" secara live tiap petang lewat Facebook, Zuckerberg menepis anggapan adanya keberpihakan politik. Sebab, kesempatan yang sama pun akan Facebook berikan kepada Clinton jika dia juga membutuhkan siaran live tiap hari. 

"Kami tidak ingin menjadi hakim kebenaran dengan cara kami sendiri. Maka, kami menyerahkan penilaian itu kepada masyarakat dan pihak ketiga yang bisa dipercaya," papar Zuckerberg dalam penjelasan tertulisnya bulan lalu. Saat itu dia juga menegaskan bahwa tidak ada lembaga atau badan atau medsos yang bisa memantau dan mengevaluasi satu per satu artikel untuk memastikan validitasnya. 

Geoffrey Colvin, penulis sekaligus jurnalis senior majalah Fortune, sepakat dengan Zuckerberg. Dalam artikelnya akhir bulan lalu, dia menyatakan bahwa para pengguna medsoslah yang paling bisa mengendalikan persebaran fake news. Tanpa kontrol sosial yang baik, netizen akan dengan mudahnya menyebarluaskan artikel maupun foto abal-abal lewat medsos. 

Cukup dengan satu klik yang tidak dilandasi rasa tanggung jawab, para pengguna medsos bisa menjadikan kepalsuan sebagai berita. Bahkan, kebenaran. Itu terjadi karena masih ada sebagian masyarakat yang menganggap artikel atau kabar dan foto yang sering di-share sebagai kebenaran. Para pengguna medsos pun tidak mau repot melakukan cek dan ricek. "Apalagi, ada kata news (berita) di sana. Kata news seolah menjadi penegas bahwa yang mereka baca lantas mereka sebar luaskan itu fakta," kata Colvin. 

Comet Ping Pong, sebuah kedai pizza di Kota Washington, pernah menjadi korban persebaran fake news. Meski kabar yang beredar tentang pemilik kedai pizza tersebut palsu, kerugian yang dialami sangatlah nyata. James Alefantis, owner Comet Ping Pong, memang simpatisan Partai Demokrat. Dia juga resmi tercatat sebagai donatur partai biru tersebut sejak era pencapresan Barack Obama. 

Alefantis menjadi sorotan publik setelah namanya muncul dalam skandal surat elektronik (surel) John Podesta pada masa kampanye beberapa bulan lalu. Dari fakta itu, 4chan, situs berbahasa Inggris yang menampilkan berbagai gambar dari seluruh dunia tanpa filter, berspekulasi. Situs itu mengunggah gambar yang diambil dari Instagram Alefantis dan membumbuinya dengan kabar-kabar berbau politik dan kejahatan seksual.

Dalam hitungan menit, terciptalah skandal pizzagate. Dengan berbagai polesan di sana-sini, Alefantis pun muncul menjadi sosok pedofil. Itu gara-gara foto anak-anak kecil dari Instagram sang pemilik kedai pizza. Beberapa netizen sengaja mengaitkan Alefantis dengan tokoh-tokoh Demokrat lain yang punya perilaku seksual menyimpang. Salah seorang adalah Anthony Weiner, suami Huma Abedin, yang kini dalam proses cerai.

Kabar tak benar itu membuat sekelompok massa emosional. Mereka pun langsung menggelar unjuk rasa di halaman kedai pizza Alefantis. Sang pemilik yang kebetulan berada di Washington pun mengajak para demonstran masuk ke kedai dan berdiskusi. Pertemuan itu direkam kamera video, kemudian diunggah di kanal YouTube. Tapi, dialog tidak langsung membuat Alefantis kembali bersih. Tuduhan tetap menggenang. 

"Mereka mengabaikan hal-hal mendasar tentang kebenaran," ujar Alefantis dalam wawancara dengan BBC Trending. Hal mendasar yang dia maksud adalah ruang khusus untuk berkonspirasi. Sebab, selama ini pemimpin atau anggota jaringan rahasia serta gerakan politik tertentu pasti punya markas di tempat khusus. Biasanya markas seperti itu ada di basement. Faktanya, Comet Ping Pong tidak punya basement. 

Alasan mendasar lain yang Alefantis ungkapkan adalah kebenaran bisa hadir dalam bentuk apa adanya. "Kadang, foto seorang anak yang tak berdosa di dalam sebuah keranjang (bayi) tak punya arti lain. Foto itu ya hanya tentang seorang anak di dalam keranjang. Itu juga tidak membuktikan apa pun tentang pedofilia atau perilaku seks menyimpang," terangnya. 

Viren Swami, dosen psikologi sosial pada Anglia Ruskin University, mengatakan bahwa belakangan masyarakat AS selalu mengaitkan kepalsuan dengan hal-hal berbau politik. Itulah yang membuat teori konspirasi marak akhir-akhir ini. Jika mau mencermati, sebenarnya netizen dan para pengguna medsos bisa membedakan antara fake news dan news sesungguhnya. Yang diperlukan hanyalah kekritisan. "Mereka yang kritis pasti akan mencari bukti sebelum memercayai atau menyebarluaskan artikel yang mereka terima dari orang lain. Sayangnya, sebagian besar orang lebih senang berasumsi dan percaya pada pemahamannya sendiri," lanjut Swami. (BBC/newyorktimes/fortune/hep/c7/any/jpg)


TOPIK BERITA TERKAIT: #hoax 

Berita Terkait

IKLAN