Capital Outflow Ancam Likuiditas Bank

INDOPOS.CO.ID-Capital outflow sepanjang November 2016 dikhawatirkan memicu likuiditas perbankan mengetat. Pasalnya, sejumlah dana bersemai dideposito kini berbalik menyambangi pasar modal. Misalnya, dana investor ritel, perusahaan asuransi, dan perusahaan dana pensiun (dapen).

”Ya, awalnya perusahaan asuransi dan dapen berinvestasi di deposito perbankan. Tetapi, sekarang tidak sedikit dicairkan untuk mengoleksi saham di pasar modal,” tutur Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio.

Baca Juga :

Tito melanjutkan, dana masuk pasar modal setiap hari mencapai senilai Rp 1 triliun. Kondisi itu bukan tidak mungkin membuat likuiditas perbankan menjadi ketat. Sehingga, tidak baik bagi kinerja perbankan ke depan. ”Memang, untuk kemarin hanya setara Rp 200 miliar,” imbuhnya.

Otoritas pasar mencatat jumlah capital outflow November mencapai Rp 12,36 triliun. Jumlah itu naik berkali-kali lipat dibanding bulan sebelumnya di kisaran Rp 2,28 triliun. Aliran mudik investor asing itu akibat kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) yang berimbas pada koreksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD).

Baca Juga :

”Sejak Trump menang, asing banyak jual saham. Tetapi dibeli ritel, perusahaan asuransi, dan Dapen,” tegas Tito.

Analis Senior Binaartha Sekuritas Reza Priyambada menyebut aksi jual investor asing terjadi pada saham emiten berkapitalisasi besar, terutama emiten sektor perbankan. Berdasar data, selama November, saham Bank Mandiri (BMRI) sempat jatuh hingga Rp 10.100, sedang saham Bank Negara Indonesia (BBNI) anjlok menjadi Rp 5.000. Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) terperosok hingga Rp 10.475, dan Bank Central Asia (BBCA) sempat anjlok ke posisi Rp 14.300. (far)

 

Komentar telah ditutup.