Jumat, 21 September 2018 11:23 WIB
pmk

Internasional

Satu Hari, Dua PM Mengundurkan Diri

Redaktur:

John Key

INDOPOS.CO.ID – Penduduk Selandia Baru dikejutkan dengan keputusan Perdana Menteri (PM) mereka, John Key. Suami Bronagh Key tersebut kemarin (5/12) tiba-tiba menyatakan mundur dari jabatannya. Alasannya urusan keluarga. Bapak dua anak tersebut tidak mau mengungkapkan alasannya secara detail.

’’Ini adalah keputusan tersulit yang pernah saya buat. Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan selanjutnya,’’ ujar pria yang menjadi PM sejak 2008 itu dalam acara konferensi pers rutin mingguan. ’’Menjadi pemimpin partai dan negara merupakan pengalaman yang luar biasa,’’ tambah pria yang dulu dikenal sebagai pemain sukses di pasar valuta asing tersebut.

PM ke-38 Selandia Baru itu bakal mundur secara formal pada 12 Desember mendatang. Pada waktu yang sama, Partai Nasional bakal mengadakan kaukus untuk memilih pemimpin partai dan PM yang baru guna melanjutkan masa tugas Key. PM bernama lengkap John Phillip Key tersebut bakal memberikan suara untuk Wakil PM sekaligus Menteri Keuangan Bill English sebagai penggantinya.

Sempat beredar isu di media bahwa Key mendapatkan ultimatum dari istri yang dinikahi 32 tahun lalu untuk segera mundur dari jabatannya. Namun, hal tersebut ditampik Key. ’’Kami telah membicarakan hal ini dan dia (Bronagh, Red) senang dengan konsep bahwa saya berada di rumah lebih sering, tapi tidak ada ultimatum (dari istri saya),’’ tegas pria 55 tahun itu saat diwawancarai dalam program radio Newstalk.

Di Italia, PM Matteo Renzi juga bakal mundur dari jabatannya. Namun, alasannya jauh berbeda dengan Key. Renzi kalah dalam referendum perubahan konstitusi di Italia yang dikampanyekan. PM ke-56 Italia tersebut telah menemui Presiden Sergio Mattarella untuk menyampaikan niatnya. Nantinya Mattarella yang harus memutuskan apakah dia bakal menunjuk PM yang baru secara langsung atau menyelenggarakan pemilu.

Renzi ingin mengubah sistem politik Italia yang tidak praktis. Dia ingin memperkuat pemerintah pusat dan melemahkan Senat. Lawan politiknya menilai reformasi tersebut bakal memberikan kekuasaan yang terlampau banyak kepada PM. Tampaknya, penduduk setuju dengan argumen oposisi.

Dari referendum yang dilangsungkan Minggu (4/12), 60 persen menolak dan hanya 40 persen yang setuju. Tingkat kehadiran masyarakat juga cukup tinggi, yaitu mencapai 70 persen. PM termuda di Italia tersebut akhirnya tidak bisa berkutik. Dia tidak punya pilihan lain, selain mundur. Dia telah menjadi PM Italia selama 2 tahun 9 bulan. (Reuters/AFP/BBC/sha/c15/any)


TOPIK BERITA TERKAIT: #international 

Berita Terkait

HRW Minta Putra Mahkota Saudi Disanksi

Internasional

Apa Kata PKS soal Yerusalem?

Nasional

Calon Pengganti Presiden Zimbabwe ’’Buaya’’

Internasional

Trump Usir Warga Negara Indonesia Korban Kerusuhan 1998

Internasional

IKLAN