Senin, 19 November 2018 03:00 WIB
pmk

Hukum

Tiga Tersangka Kasus Victoria Masuk DPO

Redaktur:

Ilustrasi

INDOPOS.CO.ID -Tiga tersangka kasus dugaan penjualan hak tagih (Cessie) PT Adyesta Ciptatama di BTN kepada BPPN alias Victoria akhirnya resmi masuk ke dalam daftar pencarian orang (DPO).  Ketiganya adalah Suzana Tanojo yang menjabat Komisaris PT Victoria Sekuritas Indonesia (VSI) dan Rita Rosela (Direktur PT VSI) dan Hayanto Tanudjaja (Analis Kredit di BPPN).

 

Menurut Direktur Penyidikan Tindak Pidana Khusus Fadil Zumhana, penetapan ketiga tersangka tersebut sebagai buronan bukan tanpa sebab. Ketiga tersangka kerap menghindari panggilan penyidik saat mau diperiksa. ‎”Ini sudah tiga kali mangkir, sehingga ditetapkan sebagai DPO,” ujar Fadil, kemarin. 

 

Penetapan buron ini, lanjut dia, sudah melalui ketentuan atau prosedur yang berlaku. ”Kita sudah datangi rumahnya, kantornya, tapi tidak ditemukan. Kami duga mereka melarikan diri,” ungkapnya. Saat ini mereka diduga sudah berada di Amerika Serikat. ”Kita tegaskan, penyidikan jalan terus tanpa kehadiran mereka. Kita tidak akan berhenti,” tegasnya.

 

Dalam kasus ini, Kejagung juga menetapkan mantan Kepala BPPN Syafrudin Tumenggung sebagai tersangka dan saat ini masih menjalani proses hukum. ‎Kasus ini, bermula dari adanya dugaan peminjaman kredit oleh PT Adyaesta Ciptatama ke Bank BTN untuk membangun perumahan di Karawang seluas 1.200 hektare. Bank BTN lalu mengucurkan kredit sekitar Rp469 miliar dengan jaminan sertifikat tanah seluas 1.200 ha. Ketika krisis moneter terjadi BTN pun tak urung menjadi salah satu bank masuk program penyehatan BPPN.
 

Badan ini selanjutnya melelang kredit-kredit tertunggak termasuk aset PT AC berupa tanah 1.200 ha. ‎Lelang digelar, PT First Capital ‎sebagai pemenang dengan nilai Rp 69 miliar, tapi First Capital belakangan, membatalkan pembelian dengan dalih dokumen tidak lengkap.

 

Kemudian, BPPN melakukan program penjualan aset kredit IV (PPAK IV), 8 Juli 2003 hingga 6 Agustus 2003 dan dimenangkan oleh PT VSIC dengan harga yang lebih murah lagi, yakni Rp26 miliar. PT AC telah mencoba menawar pelunasan kepada Victoria dengan harga di atas penawaran BPPN, yakni Rp266 miliar. Tapi VSIC menaikkan harga secara tidak rasional sebesar Rp1,9 triliun. (ydh)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #kejagung 

Berita Terkait

IKLAN