Kewenangan BNPT Harus Diperkuat

INDOPOS.CO.ID – Meski teror Thamrin sudah berlangsung lama, serta tokoh Poso Santoso sudah tewas, namun aksi terorisme di negeri ini tetap harus terus diwaspadai. Guna memerangi munculnya gerakan baru, Parlemen Senayan pun meminta peran Badan Nasional Penangggulangan Terorisme (BNPT) harus diperkuat.

”Kewenangan BNPT harus dipertegas dan diperluas, bila perlu menjadi setingkat menteri,” kata anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Syaiful Bahri Ruray dalam seminar Penanggulangan dan Penindakan Tindak Pidana Terorisme di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (6/12).

Menurut politisi Golkar ini, wilayah Indonesia yang luas membuat perlunya BNPT dijadikan sebagai leading sector dalam pemberantasan terorisme. ”Untuk BNPT dapat dijadikan leading sector harus didukung oleh infrastruktur yang memadai karena tidak dapat dipungkiri, ancaman terorisme ke depan cukup beragam dan perlu diantisipasi menyesuaikan perkembangan zaman,” ucapnya.

”Seperti ancaman proxy war, itu perlu diantisipasi. Maka dari itu BNPT harus diperkuat,” tambahnya.

Sementara itu di tempat yang sama, Anggota Komisi I DPR dari fraksi Partai  Golkar, Bobby Adityo Rizaldy juga‎ mengatakan sangat mendukung BNPT menjadi leading sector dalam pemberantasan terorisme.

”Fraksi Partai Golkar mendukung BNPT menjadi leading sector dalam pemberantasan terorisme, karena menurut kami hal tersebut sangat penting untuk pemberantasan terorisme,” paparnya.

Baca Juga :

Cegah Terorisme Ciptakan Generasi Unggul

Pendapat lainnya juga disampaikan oleh Mantan Jamaah Islamiyah Nasir Abas. Ia mengungkapkan terorisme di Indonesia semakin canggih, karena itu dirinya meminta kepada pemerintah dan lembaga pemberantasan terorisme terkait dapat segera mengaktualisasi kemampuan agar dapat mengimbanginya.

”Mereka belajar di Afganistan bergabung dengan Alqaidah dan ISIS sekarang ini memang bertujuan untuk mempersiapkan kekuatan diri guna mengembalikan Indonesia sebagai negara Islam,” kata Nasir Abas.

Menurut Abas, ada 10 angkatan yang belajar akademi militer, menembak, propaganda, penggalangan massa, counter opini pemerintah di berbagai media termasuk media sosial, dan lainnya di dalam pergerakan aksi terorisme tersebut. ”Jadi, mereka sudah canggih dan mempelajarinya secara lengkap dan mendetail,” tegasnya.

Nasir Abas mengingatkan jika teroris itu akan melakukan teror-nya secara terus-menerus dan berulang, karena ideologi mereka adalah membunuh itu kewajiban. Dimana mereka percaya bilamana meninggal hal tersebut sebagai mujahid, mati syahid, masuk surga dan mendapatkan bidadari. ”Itu sudah ideologi mereka. Bisa dirubah, tapi sulit karena doktrinnya sejak di Afganistan sudah begitu,” imbuhnya. (dil)

Komentar telah ditutup.