Jumat, 21 September 2018 05:10 WIB
pmk

Internasional

Kesetaraan, Kunci Penyelesaian Konflik SARA di Myanmar

Redaktur: Syahrir Lantoni

INDOPOS.CO.ID - Inklusifitas atau kesetaraan menjadi kunci berakhirnya konflik Suku Ras dan Agama (SARA) di Myanmar. Menteri Luar Negeri RI!Retno Marsudi mengatakan itu saat bertemu dengan Konselor Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi dan membahas secara terbuka situasi dan perkembangan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar. 

Menlu RI menegaskankan pentingnya keamanan dan stabilitas segera dicapai bagi upaya untuk meneruskan pembangunan yang inklusif di Rakhine State.

Seperti diketahui, masyarakat Muslim Rohingya di Rakhina State mengalami penindasan oleh etnis lain di sana. Dengan kondisi tersebut maka penegasan mengenai kesetaraan penting untuk diupayakan. "Masalah inklusifitas, dimana semua masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang sama,  menjadi kunci dari penyelesaian situasi di Rakhine," kata Menlu usai bertemu Daw Aung San Suu Kyi di Napyidaw, Myanmar, Selasa (6/12) malam.

Indonesia sendiri sebagai negara dengan mayoritas masyarakat penganut Agama Islam, mengutarakan keprihatinan mendalam pada situasi di Rakhina State, Myanmar. Harapan Indonesia jelas, pemerintah Myanmar harus segera menghentikan konflik sosial di negaranya agar tak terus berlanjut. Menlu juga mendesak otoritas setempat untuk menjunjung tinggi penghormatan dari negara dan perlindungan terhadap hak asasi manusia semua masyarakat di Rakhine State, termasuk minoritas Muslim khususnya dalam upaya pemulihan stabilitas.

Menurut pengakuan Menlu, Konselor Myanmar sependapat dengan Menlu RI atas pentingnya pembangunan yang inklusif dan mengedepankan kesetarahan. Selain itu Daw Aung San Suu Kyi juga menanggapi positif tentang pentingnya akses bantuan kemanusiaan untuk masyarakat Rohingya di Rakhina State. Apresiasi lantas dilayangkan Myanmar atas dukungan pembangunan Indonesia selama ini, termasuk bantuan kemanusiaan Indonesia yang telah masuk ke Rakhine State pasca kejadian 9 Oktober 2016 lalu. 

“Pemerintah Myanmar telah membuka pintu bagi bantuan kemanusiaan dari Indonesia, sehingga memugkinkan bantuan dari PKPU (Pos Kemanusiaan Peduli Umat) untuk sampai di Rakhine State”, tegas Menlu RI.

Sekedar mengingatkan bahwa sejauh ini Indonesia melalui santunan masyarakatnya, telah memberi bantuan infrastruktur pada Rakhine State. Salah satunya yakni pembangunan dua sekolah yang telah selesai dilakukan dan akan dilanjutkan dengan pembangunan 6 sekolah lain di sana. Atas dasar itu, Menlu RI menyampaikan kesiapan Indonesia pada Konselor Negara untuk terus bekerjasama dalam pembangunan sarana / prasarana pendidikan dan kesehatan di Rakhine State. 

Dalam kaitan ini, Menlu RI menyampaikan rencana Indonesia untuk membantu pembangunan rumah fasilitas kesehatan diatas lahan seluas sekitar 4.000 m2 di Rakhine State. Terakhir, sebagai upaya untuk meningkatkan toleransi dan harmoni masyarakat di Rakhine State, Indonesia dan Myanmar sepakat untuk meningkatkan kerjasama interfaith dialogue. Indonesia juga akan teruskan bantuan kapasitas kepada Myanmar dibidang good governance, demokrasi dan HAM.

"Indonesia akan terus melakukan engagement secara intensif, baik dengan Pemerintah Myanmar, Komisi yang dipimpin oleh Koffi Anan serta pihak-pihak lain yang memiliki kepedulian terhadap situasi Rakhine State," demikian Retno. (adn)


TOPIK BERITA TERKAIT: #rohingya 

Berita Terkait

Solidaritas ”Arrest Me Too” Meluas

Internasional

Desak Bebaskan Dua Wartawan, Warga Rohingya Ikut Demo

Internasional

Junta Militer Myanmar Lakukan Genosida

Militer Myanmar Rencanakan Genosida Muslim Rohingya

Internasional

Terungkap Kesepakatan Rahasia PBB dan Myanmar

Internasional

IKLAN