Capital Outflow Masih Jadi Momok Pasar Domestik

 

INDOPOS.CO.ID-Capital Outflow (eksodus modal asing) masih menjadi momok pasar domestik. Itu terefleksi dari koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang perdagangan hari ini (7/12). Alhasil, Indeks dipaksa menepi setelah tereduksi 7,6 poin (0,14 persen) ke posisi 5.265.

Investor asing melepas saham senilai Rp 361 miliar. Sebetulnya, pelarian modal asing sudah berlangsung beberapa hari terakhir. Tetapi, kalau dikalkulasi, aksi pelepasan modal luar tersebut mulai merambat sejak Donald Trump tampil sebagai pemenang di ajang pesta demokrasi Amerika Serikat (AS). Disusul pengendali baru negeri adidaya itu berencana melancarkan serangkaian kebijakan untuk memperkuat ekonomi lokal.

Memang, kalau ditilik lebih saksama, aslinya investor manca masih mencetak akumulasi beli. Sejak awal tahun hingga saat ini (Year to date), tercatat investor asing membukukan beli bersih senilai Rp 17,6 triliun. Namun, koreksi dan capital outflow itu layak dicermati.

Baca Juga :

Antrean Panjang Pemilih Awal di Pemilu 2020 AS

Maklum, situasi dan kondisi tersebut terjadi di tengah apresiasi mayoritas bursa Asia. Indeks leading ekonomi dan kepercayaan meningkat sejalan optimisme investor terhadap pertumbuhan GDP Jepang. Komoditas tambang macam bijih besi Tiongkok naik ke level tertinggi dalam 2 tahun terakhir.

Kemudian bursa Eropa dibuka menguat signifikan di tengah optimisme Bank Sentral Eropa (Eropean Central Bank/ECB) berkomitmen memperpanjang program pembelian obligasi. Investor juga berspekulasi terhadap kebijakan moneter Eropa akan tetap akomodatif.

Data ekonomi selanjutnya akan diperhatikan investor macam aktifitas eksport import China beserta Neraca perdagangan. Kebijakan moneter ECB mengenai kondisi ekonomi zona Eropa saat ini. ”Selain capital outflow, koreksi Indeks diperparah pelemahan sektor infrastuktur dan aneka industri,” tutur Technical Analyst PT Reliance Securities Lanjar Nafi.

Menilik data-data di pasar, gerak Indeks seakan pulled back tepat pada resistance dengan membentuk bearish candle 2 hari berturut-turut diiringi penurunan volume perdagangan. Indikator stocastic pun dead-cross tepat di area overbought dengan momentum flat RSI cenderung terkonsolidasi. Dengan begitu, Indeks diramal belum akan keluar dari tekanan dengan mengorbit di kisaran 5.175-5.280. ”Potensi pelemahan masih terbuka,” imbuhnya.

Di sisi lain, Indeks disebut masih cukup kuat meski sangat terganggu hasil referendum Italia. Pemodal masih diselimuti aura konfidensi tinggi menyusul data domestik positif menjadi petunjuk dan prospek positif dalam jangka panjang. Menjelang akhir tahun, perhatian terhadap program amnesti pajak semakin meningkat.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan Indonesia akan mengalami surplus neraca pembayaran sebesar USD 15 miliar tahun ini. ”Repatriasi aset menjadi senjata mendongkrak ekonomi domestik,” tambah Research Analyst FXTM Lukman Otunuga.

Berdasar data perdagangan kemarin, sebanyak 122 saham naik, 188 saham turun, 93 saham tidak bergerak, dan 169 saham tidak ditransaksikan. Investor bertransaksi sejumlah Rp 7,14 triliun, terdiri dari transaksi reguler Rp 4,78 triliun, negosiasi Rp 2,34triliun, dan pasar tunai Rp 6,11miliar. Di pasar reguler, investor asing membukukan transaksi jual bersih (net sell) Rp 536,72 miliar. 

Sebanyak tujuh dari total 10 indeks sektoral melemah, dipimpin sektor infrastruktur turun 0,92 persen dan aneka industri minus 0,87 persen. Mayoritas indeks saham Asia menguat. Indeks Nikkei225 Jepang surplus 0,74 persen, Kospi Korsel menguat 0,1 persen, dan Hang Seng Hong Kong terapresiasi 0,55 persen. 

Sebagain besar indeks saham Eropa menguat sejak pembukaan. Indeks FTSE100 Inggris menanjak 1,12 persen, DAX Jerman tumbuh 1,33 persen, dan CAC Perancis terangkat 1,09 persen. Di pasar valas, nilai tukar rupiah mengalami apresiasi 37 poin (0,28 persen) menjadi Rp 13.333 per dolar Amerika Serikat (USD). (far)

 

Komentar telah ditutup.