Prodia Modernisasi Alat Kesehatan

INDOPOS.CO.ID-Prodia Widyahusada (PRDA) melepas 5 persen saham kepada investor asing pasca menjajakan saham perdana (Initial Public Offering/IPO). Penjualan saham itu dilakukan melalui skema private placement. Penjualan saham itu ditujukan kepada investor manca.

Banderol harga saham sama seperti tawaran di dalam negeri sebesar Rp 6.500 per lembar. Sebelumnya, penjamin pelaksana emisi efek menetapkan harga dengan rentang Rp 6.250-8.000 dengan pertimbangan kualitas investor baik dalam maupun luar negeri. ”Jadi, penetapan Rp 6.500 itu untuk mendapat titik keseimbangan antara harga, pendapatan, long and short term,” tutur Direktur Utama PT Indopremier Securities Moleonoto.

Baca Juga :

Olimpiade Bukan Ajang Demonstrasi

Menurut Moleonoto, saham Prodia dibeli 73 persen investor asing dan 23 persen investor domestik. Berdasar tipe, sebanyak 95 persen institusi lokal maupun asing memborong secara jangka panjang. ”Kami tawarkan pada investor Singapura dan Hongkong,” imbuh Moleonoto.

Perusahaan optimistis pendapatan dan laba bersih tumbuh lebih baik pada 2017  dibanding tahun lalu. Rata-rata pertumbuhan pendapatan sepanjang 3 tahun terakhir sebesar 10,2 persen. Dan, tahun depan dipatok lebih dari perolehan tersebut. ”Ekspektasi kami begitu. Tumbuh lebih baik dari rata-rata pertumbuhan selama ini,” tegas Direktur Utama Prodia Dewi Muliaty.

Baca Juga :

Prodia resmi menjadi emiten ke 15 dengan melepas 187,5 juta lembar saham atau setara 20 persen dari total saham perusahaan. Dengan mematok harga perdana Rp 6.500 per lembar, perseroan mengantongi dana IPO sejumlah Rp 1,22 triliun. Berbekal dana itu, Prodia mematok membuka 33 laboratorium klinik baru 4 tahun ke depan.

Melalui penguatan infrastruktur itu, diharap manfaat Prodia merata seluruh pelosok negeri. Dengan begitu, masyarakat diharap mendapat solusi terbaik terhadap kebutuhan diagnostik kesehatan terus meningkat dewasa ini. ”Sebagai perusahaan dengan rekam jejak lebih 43 tahun, Prodia ingin menjadi bagian solusi kesehatan dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Kami berkomitmen mengjadirkan layanan terbaik dengan hasil diagnostik akurat dan optimal berstandar internasional,” ulas Dewi.

Baca Juga :

TNI AD Ungkap Kecelakaan Helikopter di Kendal

Direktur Keuangan Prodia Liana Kuswandi menambahkan, dana hasil IPO 67 persen untuk mengembangkan dan memperbesar jejaring outlet. Sebesar 19 persen untuk memperkuat kemampuan dan kualitas layanan melalui pembelian peralatan teknologi diagnostik generasi terbaru. Pembelian peralatan untuk pemeriksaan non-laboratorium, dan pembelian peralatan dan atau perlengkapan teknologi informasi. Kemudian sisa 14 persen untuk memperkuat modal kerja.

Hingga Semester pertama tahun ini, Prodia membukukan pendapatan senilai Rp 648,6 miliar. Meningkat 9,7 persen dari periode sama tahun lalu di kisaran Rp 591 miliar. Total aset perusahaan mencapai Rp 588 miliar, EBITDA terakumulasi Rp 100 miliar dan EBITDA margin 15,5 persen.

Prodia mempunyai 251 outlet. Di mana, 128 diantaranya merupakan laboratorium klinik, lebih dari 3.600 karyawan dengan lebih dari 230 dokter sebagai partner kerjasama, tersebar pada 104 kota di 30 provinsi. Laboratorium klinik Prodia merupakan tempat rujukan bagi sebagian besar rumah sakit dan laboratorium klinik lain di seluruh Indonesia, terutama untuk tes laboratorium khusus. (far)

 

Komentar telah ditutup.