Rabu, 26 September 2018 12:05 WIB
pmk

Lifestyle

Kampanye Sadar Gizi Remaja Putri

Redaktur:

INDOPOS.CO.ID - Masa remaja adalah masa pertumbuhan yang sedang terjadi. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang maksimal, diperlukan gizi yang seimbang. Di kota-kota besar, kebutuhan gizi remaja khususnya perempuan mungkin tidak mengalami kendala. Namun tidak demikian dengan remaja perempuan yang tinggal di daerah terutama daerah terpencil.

Melihat hal itu, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk sebagai produsen makanan olahan melalui Japfa Foundation mengukuhkan diri sebagai korporasi yang mendukung kampanye kesadaran gizi pada remaja putri.

Menggandeng Konsorsium Indonesia Bergizi, Japfa gelar Konferensi Indonesia Bergizi 2016 (KIB). Selain itu memperkenalkan Maria Harfanti, yang, finalis Miss Indonesia 2015 sebagai Duta Gizi Japfa Foundation.

''Data Depkes RI remaja berusia 13-18 tahun memiliki tingkat kecukupan energi 72,3 persen, dengan proporsi mengkonsumsi kurang dari 70 persen Angka Kebutuhan Energi (AKE), jadi hanya sebesar 52,5 persen. Ini masalah gizi yang cukup kompleks, maka itu dibutuhkan solusi yang konkrit secara bersama-sama,'' ujar Head of Japfa Foundation Andi Prasetyo di Jakarta, Rabu (7/12).

Andi berharap kegiatan KIB 2016 ini bisa menjadi medium tepat bagi pemangku kepentingan dalam mengatasi permasalahan gizi di Indonesia. ''Kami mendorong terjadi dan terbentuknya pertemuan serta kemitraan lintas pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun publik. Bersama-sama kami berharap dapat menciptakan solusi komprehensif atas permasalahan gizi di Idnonesia secara menyeluruh,'' tukasnya.

Mengutip data Ikatan Dokter Anak Idnonesia (IDAI), remaja dengan rentang usia 15-18 tahun fase awal dimana kebutuhan nutrisi akan terbagi berdasarkan jenis kelamin. Bahwa perubahan biologis dan fisiologis pada mereka membuat remaja putri sebagai calon ibu di masa depan memiliki kerentanan dalam masalah gizi. Pada masa ini remaja putri mengalami menstruasi awal dalam fase hidupnya, yang membutuhkan zat besi yang lebih banyak.

''Minimnya kesadaran akan pemenuhan gizi dan nutrisi pada remaja putri dapat mengakibatkan munculnya berbagai masalah kesehatan yang serius di kemudian hari. Masalah gizi ini berpotensi munculnya stunting atau perawakan pendek, defisiensi mikronutrien, khsusunya anemia, defisiensi zat besi, serta masalah malnutrisi,'' jelas Ketua Kajian Gizi dan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Ir. Ahmad Syafiq, MSc, PhD.

Stunting merupakan kondisi ukuran tubuh yang berada di bawah rata-rata. Biasanya, ditandai dengan rendahnya tinggi badan anak. Kondisi ini, masih menjadi permasalahan gizi yang cukup besar, terlebih berkaitan dengan proses melahirkan. Di Indonesia sendiri, permasalahan gizi yang menyebabkan anak tumbuh dengan tinggi badan rendah tengah menjadi perhatian.

Perawakan pendek pada tubuh anak-anak Indonesia, khususnya perempuan, harus diperhatikan karena berdampak sangat besar. ''Indonesia masuk ke dalam lima teratas dari kondisi stunting. Kondisi stunting itu bukan hanya kurus tapi juga perawakan yang pendek, di bawah kondisi normalnya,'' imbuhnya. (dew)


TOPIK BERITA TERKAIT: #kuliner 

Berita Terkait

Santapan Si Hijau yang Mungil

makanmakan

Variasi Sajian Khas Kanton

makanmakan

WICSF 2018 Padukan Kuliner dan Fashion

Fashion

Makanan Khas Korea Merambah Lidah Pribumi

makanmakan

Ramen Hitam Bisa Jadi Pilihan

makanmakan

IKLAN