Butuh Tambahan Listrik 19 Ribu Mw, Bukit Asam Investasi Rp 5,8 T

INDOPOS.CO.ID– Pertumbuhan ekonomi sekitar 5–6 persen per tahun membutuhkan tambahan kapasitas listrik terpasang 19 ribu mw hingga 2019. Saat ini kapasitas terpasang pembangkit listrik di Indonesia baru mencapai 51 ribu mw.

Menteri ESDM Ignasius Jonan menyatakan, tambahan 19 ribu mw harus dipenuhi agar mencapai target kapasitas terpasang 70 ribu mw. Target itu sudah memperhitungkan cadangan 30 persen. Jika target kapasitas terpasang 70 ribu mw tercapai, PLN bisa melakukan manajemen kebutuhan listrik dengan lebih baik. ”Jangan sampai ada gap yang terlalu jauh,’’ katanya dalam diskusi kelistrikan di Jakarta (8/12).

Baca Juga :

Penambahan kapasitas listrik harus diikuti pembangunan transmisi dan gardu induk. Dengan demikian, pemadaman listrik di beberapa wilayah dapat dikurangi. Kendalanya, harga beli listrik (feed-in tariff) PLN kurang fair. ”Kami sedang menyusun feed-in tariff yang fair per wilayah dan per tingkat kesulitan. Harga harus dinamis,’’ katanya.

Untuk lebih memeratakan pemenuhan listrik, pemerintah akan berfokus membangun infrastruktur bagi 2.500 desa yang saat ini belum teraliri listrik. Menurut Jonan, rasio elektrifikasi tidak merata. Di Papua, rasio elektrifikasi baru 46,47 persen. Artinya, lebih dari separo rumah tangga di Papua belum menikmati listrik, sedangkan di Jawa rata-rata sudah lebih dari 90 persen.

Untuk itu, Kementerian ESDM menerbitkan Permen ESDM Nomor 38 Tahun 2016 tentang Percepatan Elektrifikasi di Perdesaan Belum Berkembang, Terpencil, Perbatasan, dan Pulau Kecil Berpenduduk melalui Pelaksanaan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik untuk Skala Kecil.

Terkait proyek listrik 35 ribu mw, saat ini pembangkit yang berada pada tahap perencanaan mencapai 7.654 mw, tahap pengadaan 10.331 mw, tahap kontrak yang belum konstruksi 7.641 mw, tahap kontrak konstruksi 9.512 mw, dan tahap COD 339 mw. ”Hingga September 2016, realisasi rasio elektrifikasi mencapai 89.86 persen dan di akhir 2016 akan mencapai 90,15 persen,’’ terang Jonan

Pasokan juga harus terus ditambah karena konsumsi listrik terus meningkat. Kebutuhan listrik per kapita hingga Agustus mencapai 947,7 kWh dengan perkiraan hingga akhir 2016 mencapai 956 kWh. Sementara itu, target konsumsi listrik nasional 2017 berdasar rencana strategis Kementerian ESDM sebesar 1.058 kWh per kapita.

”Penambahan penggunaan listrik juga digunakan industri untuk memproduksi barang-barang yang didistribusikan di dalam dan luar negeri,’’ kata Jonan. Sementara itu, kemarin perusahaan pertambangan PT Bukit Asam Tbk mendapatkan kredit USD 135 juta plus Rp 800 miliar dari Bank BRI. Dari total pembiayaan, sebesar USD 100 juta digunakan untuk modal kerja dan USD 35 juta untuk layanan lindung nilai (forex line).

Selain BRI, sebelumnya Bukit Asam telah mendapatkan fasilitas pendanaan dari Bank Mandiri sebesar Rp 4,3 triliun. Kredit dari dua bank raksasa itu digunakan untuk mendanai investasi di sektor pertambangan. Saat ini perusahaan pertambangan batu bara tersebut membangun PLTU Mulut Tambang Banko Tengah (Sumsel 8) berkapasitas 2 x 620 mw.

Pembangunan konstruksi proyek senilai USD 1,59 miliar itu bakal dilaksanakan tahun depan. Sementara itu, 75 persen dari sisa kebutuhan proyek USD 1,20 miliar berasal dari pinjaman The Export-Import Bank of China (Cexim). Proyek Sumsel 8 dibangun PTBA bersama konsorsium China Huadian Hong Kong.

Corporate Secretary BRI Hari Siaga Amijarso menyatakan, hingga September, BRI telah menyalurkan kredit ke sektor pertambangan senilai Rp 6,5 triliun, sedangkan total kredit yang telah disalurkan BRI hingga akhir September mencapai Rp 603,4 triliun atau tumbuh 16,3 persen daripada Januari–September 2015. (rin/dee/c5/noe/JPG)

Komentar telah ditutup.