Sabtu, 22 September 2018 12:56 WIB
pmk

Internasional

Juan Manuel Santos Terima Nobel Perdamaian

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

BUKA TANGAN: Presiden Kolombia Juan Manuel Santos. Foto: nbcnews

INDOPOS.CO.ID- Presiden Kolombia Juan Manuel Santos meraih Nobel Perdamaian. Kesepakatan damai pemerintah dan pemberontak FARC mengantarkan Santos menjadi salah seorang nobelis.

Pada Sabtu (10/12), dia menyampaikan pidato kemenangan di hadapan tokoh-tokoh dunia yang menghadiri malam penganugerahan Nobel Perdamaian di Kota Oslo, Norwegia.

”Paradoks terbesar dalam mewujudkan perdamaian adalah ternyata para korban lah yang punya keinginan paling besar untuk memaafkan, berekonsiliasi, dan menghadapi masa depan dengan hati lapang, hati yang bebas dari rasa benci,” papar pemimpin 65 tahun tersebut.

Menurut Santos, para korban FARC adalah pejuang perdamaian yang sejati. Tanpa dukungan mereka, kesepakatan damai tidak akan pernah terwujud. Pada malam penganugerahan Nobel Perdamaian 2016 itu,

Santos mengajak beberapa keluarga korban kekejian FARC. Lalu, dia memanggil mereka satu per satu dari atas panggung. Setiap nama satu korban selesai dibacakan, tepuk tangan bergemuruh di dalam ruangan. Mereka yang disebutkan namanya berdiri dan tersenyum. Dari podium, dia mempersembahkan Nobel Perdamaian 2016 untuk para korban FARC.

Tidak hanya mendedikasikan nobel, Santos juga berjanji menyumbangkan hadiah uang tunai 8 juta krona atau setara dengan Rp 11,5 miliar itu untuk membantu para korban. ”Saya pernah menjadi pemimpin pada masa perang. Kini saya menjadi pemimpin pada masa damai. Berdasar pengalaman saya, jauh lebih sulit mewujudkan perdamaian ketimbang memantik perang,” tuturnya.

Mencuri perhatian dunia lewat upaya damainya, pria yang enam tahun menjabat presiden Kolombia tersebut justru tak berbicara tentang separatisme atau pemberontakan dalam pidatonya. Sesuai tradisi, setiap nobelis wajib menyampaikan pidato setelah menerima penghargaan bergengsi itu. Kali ini Santos menggunakan momentum tersebut untuk menyorot perang antinarkoba.

Pada awal pidato, dia mengajak masyarakat internasional untuk mempertimbangkan ulang kampanye atau bahkan perang antinarkoba yang kini berlangsung di berbagai belahan dunia. Santos menjelaskan, kebijakan tanpa toleransi (zero-tolerance) justru akan membuat program pemberantasan narkoba dan para penjual serta pemakainya menjadi lebih berbahaya. Sebab, kebijakan tersebut bisa menjadi bumerang bagi pemerintah.

”Sudah saatnya strategi kita dalam memerangi narkoba diubah. Biarlah Kolombia yang membayar mahal perang antinarkoba dengan kematian demi kematian dan banyak pengorbanan,” ungkapnya.

Tak kunjung sirnanya kasus penyalahgunaan narkoba menjadi salah satu bukti bahwa strategi yang diterapkan belum tepat. Karena itu, saatnya cara baru untuk memberantas narkoba dirumuskan.

Berbedanya peraturan masing-masing negara tentang narkoba juga menjadi salah satu ganjalan dalam memerangi narkoba. ”Tidak masuk akal jika pemerintah yang satu memenjarakan petani yang membudidayakan ganja, sedangkan pemerintah lain justru mengizinkan penanaman dan pembudidayaannya. Misalnya, AS,” sindir Santos. Saat ini ada delapan negara bagian Negeri Paman Sam yang bebas menanam ganja.

Sementara itu, malam penganugerahan Nobel di Kota Stockholm, Swedia, pun berlangsung seru. Sayang, Bob Dylan yang menjadi musisi pertama pemenang Nobel Sastra tidak hadir pada malam penganugerahan tersebut. Dia hanya mengirimkan pidato nobelis yang dibacakan Duta Besar AS untuk Swedia Azita Raji. Sang dubes pula yang mewakili Dylan menerima medali dan plakat nobel.

Lantaran tak bisa hadir, Dylan yang menang berkat syair puitis dalam lagu-lagunya itu mewakilkan suaranya. Pada Sabtu, dia mengirimkan Patti Smith. Penyanyi perempuan tersebut menyanyikan lagu klasik Dylan yang berjudul A Hard Rain’s A-Gonna Fall. Tapi, di tengah lagu, dia berhenti karena lupa lirik. ”Saya minta maaf. Maaf. Saya sangat grogi,” katanya. (AFP/BBC/CNN/hep/c16/sof/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

IKLAN