Santa Rally Dongkrak Indeks

INDOPOS.CO.ID-Window dressing mulai semarak menjelang tutup tahun. Sektor keuangan menjadi incaran aksi beli setelah sempat tertekan sepanjang November. Sepekan terakhir, bahkan sukses memimpin indeks sektoral dengan penguatan 1,73 persen menjadi 783,395 dibanding pekan lalu 770,090.

Analis Recapital Securities Kiswoyo Adi Joe menyebut capaian itu berkat window dressing. Window dressing dimaknai sebagai strategi perusahaan mempercantik portofolio atau performa keuangan sebelum disajikan pada pemegang saham. ”Window dressing tidak mengapa semua saham. Jadi, manajer investasi (MI) melakukan aksi beli supaya harga saham naik,” tutur Kiswoyo.

Baca Juga :

MI sambung Kiswoyo, cenderung memilih saham perbankan untuk mempercantik portofolio. Karena itu, sektor perbankan dapat dikatakan sebagai tulang punggung laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saham perbankan mengalami lonjakan harga diantaranya Bank Negara Indonesia (BBNI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Central Asia (BBCA), dan Bank Mandiri (BMRI).

Menarik, di antara bank BUMN, BNI tercatat menguat paling tinggi. Di mana, banderol saham BNI berada di kisaran Rp 5.475. Bank Mandiri menyusul dengan apresiasi 2,57 persen, kemudian Bank BRI naik 1,54 persen, dan Bank BCA naik 0,17 persen. Berdasar data Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan keuangan diikuti industri dasar 1,7 persen, infrastruktur 1,51 persen, agrikultur 1,14 persen, barang dan konsumsi 1,26 persen, manufaktur 1,09 persen, perdagangan 0,78 persen, properti 0,69 persen, dan pertambangan 0,16 persen.

Baca Juga :

Sementara aneka industri mengalami koreksi 0,17 persen. Pelemahan aneka industri dipengaruhi harga sahamAstra International (ASII). Maklum, Astra sejauh ini masih menjadi motor penggerak aneka industri. Dengan begitu, kala saham Astra turun, aneka industri terkena imbas.

Sepanjang November lalu, saham Astra sempat menyentuh level Rp 8.300. Namun, tidak bertahan lama, sahamAstra menukik ke posisi Rp 7.700. Setelah itu, saham Astra tidak pernah menyentuh harga Rp 8.000. Saham Astra pada akhir pekan lalu ditutup di kisaran Rp 7.825. ”Performa Astra belum bagus. Jelang akhir tahun tidak mendapat window dressing,” ucap Kiswoyo.

Lalu bagaimana dengan gerak Indeks setelah libur panjang. Menilik data akhir pekan lalu, pola gerak Indeks terlihat memiliki kekuatan untuk menanjak. Itu akan ditunjang stabilitas ekonomi, tekanan lebih disebabkan dampak libur jelang akhir tahun. ”Penguatan akan ditunjang rilis data perekonomian global. Di mana, Fed fund rate (FFR) belum akan berubah,” tukas analyst Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya.

Di samping itu, lanjut William BI rate pekan ini juga masih terlihat belum akan ada perubahan. Kondisi itu menunjukkan keadaan perekonomian masih terkendali. Jelang libur panjang dan pekan terkahir akan terjadi santa rally.

Di mana, penguatan harga komoditas masih akan menunjang apresiasi Indeks. Sejumlah saham bakal mengantarkan Indeks menuju level lebih baik. Misalnya, Bank Negara Indonesia (BBNI), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Alam Sutera Asri (ASRI), Adhi Karya (ADHI), Wijaya Karya (WIKA), Unilever (UNVR), HM Sampoerna (HMSP), Gudang Garam (GGRM), Astra International (ASII). (far)

 

Komentar telah ditutup.