Agus Anggap SBY Sebagai Mentor Politik

INDOPOS.CO.ID – Ungkapan terima kasih disampaikan Calon Gubernur DKI Jakarta Agus Harimurti Yudhoyono kepada ayahnya, yakni Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Agus, selama ini SBY jarang menghadiri kampanyenya karena keterbatasan waktu dan jadwal yang padat.

"Hari ini juga ada 'surprise' bagi saya, karena ayah saya, Bapak SBY, berkenan hadir hari ini. Terima kasih, Pepo. Selama ini, karena kesibukan tugas beliau dan keinginan untuk mendorong kemandirian saya, beliau hampir tidak pernah hadir dalam acara-acara kampanye saya," ujar Agus yang disambut senyum dari SBY, saat menyampaikan orasi politik pada kampanye terbatasnya di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, kemarin.

Baca Juga :

Diungkapkan Agus, SBY merupakan ayah sekaligus mentor bagi dia yang merupakan pendatang baru dalam dunia politik di Indonesia itu. Agus juga menyampaikan, SBY sering memberi masukan dan pandangan selama dia mengikuti kampanye Pilkada DKI Jakarta 2017 beberapa bulan terakhir.

Pada kesempatan itu, SBY dan istrinya, Ani Yudhoyono, duduk di barisan paling depan di tempat acara berlangsung. Selain kedua orangtuanya, kampanye terbatas juga dihadiri istri Agus, Annisa Pohan. Hadir pula saudaranya, Edhie Baskoro Yudhoyono bersama istri, dan segenap saudara serta kerabat Agus yang lain.

Kegiatan ini juga dihadiri pasangan Agus pada Pilkada DKI Jakarta 2017, calon wakil gubernur DKI Jakarta, Sylviana Murni, yang ditemani suaminya. Kemudian, sejumlah tokoh politik seperti Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, juga terlihat hadir.

Selain itu, Agus juga menyoroti perihal perlunya warga DKI menjaga kebhinekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).  Jakarta adalah rumah besar dari lintas agama, suku dan ras yang sudah berlangsung lama dan berjalan damai. "Kerukunan hidup antara warga dengan suku, ras dan agama yang berbeda, sudah lama kita lakukan. Bukan hal baru," ujar Agus di Hotel Dharmawangsa, Jakarta Selatan, Minggu (11/12).

Dia menggambarkan, kehidupan heterogen Jakarta Kehidupan bertetangga berjalan harmonis selama belasan tahun. Dirinya mencontohkan seperti di daerah Tambora Jakarta Barat."Tak ada ketakutan, karena semua menjaga dan saling menghormati tanpa harus menjadi homogen," terus Agus.

Bagi Agus, Kebhinnekaan bagi warga Jakarta bukanlah sekedar festival, tapi kenyataan hidup yang sudah lama berlangsung sejak kota ini berdiri ratusan tahun lalu. Tidak hanya kepada warga, Agus pun mengimbau agar para pemimpin yang ada di propinsi ini dapat menjadi contoh dalam menjaga kebhinekaan. "Dan jangan sebaliknya mudah menyebarkan serta membesarkan rasa kebencian di antara mereka semua," pesan dia.

Ia meminta pemimpin Indonesia termasuk pemimpin Jakarta, tak boleh berjiwa sektarian dan partisan, khususnya jika menyangkut keberagaman kita sebagai bangsa. "Yang harus kita suburkan adalah "love" atau kasih sayang, dan bukan "hatred" atau kebencian," terang dia.

Dirinya mengatakan, jika ada gejala atau insiden-insiden kecil yang bisa mengganggu kerukunan antar komponen yang berbeda identitas, pemimpin harus segera ambil langkah-langkah yang tepat dan bijak agar hal itu tidak berkembang ke arah yang lebih buruk lagi. 

"Negara harus hadir dengan cepat, jangan membiarkan kemudian ternyata terlambat, sudah tersakiti, sudah terluka, sudah tergores hati para pemeluk agama di negara kita, dan juga tergesek antara komunitas yang berbeda identitas tersebut," tutur dia.

Agus menyarankan nantinya diperlukan dialog terus-menerus, perlu kita hidupkan forum kerukunan antar identitas, agama, etnis, suku dan asal daerah. Sebagai wadah yang sah dan memiliki legitimasi yang tinggi untuk senantiasa menjaga kerukunan dan kebersamaan warga Jakarta.  "Kalau wadah dan forum kerukunan itu telah ada, menurut saya harus lebih ditingkatkan intensitas dan efektifitasnya, " tutur dia.

Namun, untuk menjaga kerukunan dan kebhinnekaan, menurut Agus tidak harus selalu kita kaitkan dengan upaya pencegahan konflik di antara mereka. "Banyak cara yang bisa kita lakukan. Menggelar acara budaya, pameran, kuliner, wisata sejarah dan kegiatan sejenis yang dapat lebih menyatukan serta meningkatkan apresiasi satu sama lain, juga sebuah cara yang baik," tutup dia.  

Dalam pidato politik itu, Agus pun tak lupa membeberkan 10 program utamanya jika terpilih menjadi Gubernur DKI. (wok)

Komentar telah ditutup.