Presiden Ini Suka Naik Motor Keliling Kota Sambil Bawa Senjata

INDOPOS.CO.ID – Presiden Filipina Rodrigo Duterte memang kontroversial. Pengakuan terbarunya ini pun bikin shock. Di hadapan pebisnis Filipina sebelum terbang Kamboja yang kemudian dilanjutkan ke Singapura, Duterte mengaku kerap membunuh tersangka tersangka kriminal saat menjabat sebagai Walikota Davao.

Ini memang bukan pengakuan pertama, saat 2015, Duterte pernah mengungkapkan penyataan serupa. Dan, pernyataan kali ini mendukung pernyataan tersebut. Saat menjadi walikota selama dua dekade, Duterte memang mampu memangkas angka kejahatan di Davao.

Baca Juga :

HRW Minta Putra Mahkota Saudi Disanksi

”Saat di Davao, saya biasanya melakukannya sendiri. Hanya untuk menunjukkan kepada polisi, kalau saya bisa mengapa kalian (polisi, Red) tidak bisa,” katanya. ”Saya akan naik motor besar keliling Davao. Saya patroli di jalan dan mencari orang yang sepertinya bermasalah. Saya mencari pertengkaran atau pertikaian jadi saya bisa membunuh,” sambungnya. Sadis.

Pada 2015, dia menyatakan pernah membunuh setidaknya tiga lelaki tersangka penculikan dan pemerkosaan di Davao. Pada September 2016, dewan senat membawa seorang mantan anggota pasukan pembunuh bayaran (death squad) Duterte untuk bersaksi. Saksi itu mengatakan kalau Duterte, saat menjadi walikota, menembak mati agen departemen kehakiman dengan senjata mesin Uzi.

Baca Juga :

Apa Kata PKS soal Yerusalem?

Sampai saat ini, hamit enam ribu orang sudah dibunuh oleh polisi dan pembunuh bayaran sejak Duterte terpilih sebagai presiden. Misi utamanya memang membesihkan Filipina dari kejahatan narkoba bila terpilih sebagai presiden pada Mei 2016. ”Hitler membunuh tiga juta orang Yahudi. Ada tiga juta pecandu narkorba di Filipina. Saya akan sangat senang membunuh mereka,” katanya suatu ketika.

Duterte berulang kali mengatakan tidak peduli dengan hak asasi manusia dan menyebut kalau ada pengacara yang membela tersangka narkoba bakal menjadi target operasinya.(BBC/CNN/tia/JPG)

Baca Juga :

Komentar telah ditutup.