Ekonomi 2017 Diprediksi Stabil

INDOPOS.CO.ID – Ruang pelonggaran moneter hampir tertutup. Dengan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, sulit bagi Bank Indonesia (BI) untuk mengendurkan kebijakan. Artinya, bank sentral tidak lagi bisa diharapkan menurunkan suku bunga acuan.

Namun, BI menganggap perbankan masih bisa menurunkan suku bunga. Gubernur BI Agus Martowardojo menyatakan, pada 2016, hampir tidak ada ruang untuk pelonggaran moneter itu. Menurut dia, tahun ini merupakan momentum pemulihan. ”Kami melihat bahwa pada 2017 ada perbaikan-perbaikan,” ungkapnya saat ditemui setelah menghadiri pembukaan bursa saham di gedung BEI kemarin (3/1).

Agus menambahkan, penurunan suku bunga bank masih menjadi perhatian. ”Kami tahu bahwa deposito dana pihak ketiga sudah turun 137 basis poin. Bunga kredit baru turun 67 basis poin. Seharusnya kredit masih bisa turun setelah bank secara umum stabil,” ungkapnya. Bank sudah melewati 2016 dengan berbagai antisipasi, terutama kekhawatiran likuiditas ketat. Terlebih, situasi ekonomi global belum kondusif. Namun, lanjut dia, dunia mendapatkan gambaran tentang kebijakan ekonomi AS.

”Hal itu akan membuat bank siap dengan penataan kredit, termasuk bunga kredit. Ke depan ada peluang bunga bank, khususnya kredit, untuk dilakukan penyesuaian,” ujarnya. Agus menjelaskan, secara umum, ada kenaikan berbagai indikator ekonomi pada Desember 2016. Termasuk sinyal yang diberikan bank sentral AS atau The Fed yang akan menaikkan suku bunga lagi tiga tahap pada 2017 dan 2018.

”Jadi, secara umum, kami perlu siapkan diri. Sebab, lingkungan dunia akan membuat orang yang pinjam valuta asing dalam USD perlu membayar lebih mahal. Hal itu perlu diantisipasi,” terangnya. Tapi, kondisi ekonomi masih baik. Bahkan, inflasi berada di level rendah. Defisit transaksi yang berjalan masih berada di bawah dua persen. Neraca pembayaran surplus dan cadangan devisa meningkat. ”Jadi, secara umum, ekonomi Indonesia cukup stabil. Kami akan siap-siap seandainya lingkungan bunga meningkat,” imbuhnya.

Harapan bunga rendah memang masih ditunjukkan pemerintah. Saat membuka perdagangan saham di BEI kemarin, Wakil Presiden Jusuf Kalla kembali melontarkan keinginan itu. ”Bunga lebih baik, lebih rendah. Tentu, tidak serentak memang, melainkan secara bertahap. Kalau bunga deposito naik tinggi, ya tentu malas ke pasar modal. Padahal, kami tidak ingin ada orang yang tidur-tiduran yang menunggu uang datang,” tuturnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat inflasi pada Januari–Desember 2016 mencapai 3,02 persen. Sedangkan inflasi Desember sebesar 0,42 persen. Angka inflasi tahun kalender itu tercatat terendah sejak 2010. Kepala BPS Kecuk Suhariyanto mengatakan, inflasi pada 2011 mencapai 3,79 persen dan meningkat menjadi 4,3 persen pada 2012. Inflasi lantas melejit menjadi 8,38 pada 2013 dan turun tipis menjadi 8,36 pada 2014. Pada 2015, inflasi berhasil ditekan menjadi 3,35 persen.

Penyumbang inflasi selama 2016 adalah cabai merah (0,35 persen) dan rokok keretek (0,18 persen). Selain itu, inflasi disumbang komoditas bawang merah, tarif angkutan udara, bawang putih, pulsa ponsel, ikan segar, tarif kontrak rumah, dan sewa rumah. Sementara itu, inflasi pada Desember 2016 dipengaruhi kelompok pengeluaran transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,12 persen. Hal itu terkait dengan libur Natal dan tahun baru. ”Secara umum, inflasi Desember dipengaruhi naiknya transportasi udara,” terang Kecuk.

Tantangan inflasi tahun ini diprediksi lebih besar karena sejumlah komponen inflasi yang dikendalikan pemerintah (administered prices) seperti tarif listrik, elpiji, dan bahan bakar minyak. ”Tekanannya cukup besar untuk bergerak,’’ kata Menko Perekonomian Darmin Nasution di kompleks istana kepresidenan.

Meski demikian, pemerintah masih optimistis inflasi pada 2017 tidak melampaui range yang disepakati dengan Bank Indonesia, yakni 4 plus minus 1 persen. ’’Kalau (administered prices) bisa (dikendalikan), kita optimistis di range itu. Artinya sama dengan tahun lalu,’’ terangnya. Hal lain adalah pemerintah berupaya memastikan kebijakan di sektor pangan mendukung capaian inflasi rendah. Dengan demikian, harga pangan bisa mengurangi tingginya pergerakan administered prices. ’’Begitu digabung, meski (inflasi) lebih tinggi, tidak terlalu banyak,’’ pungkasnya. (dee/byu/c17/noe)

Komentar telah ditutup.