Minggu, 18 November 2018 12:35 WIB
pmk

Ekonomi

Petrokimia Seriusi Ritel Pupuk Komersial

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID–Petrokimia Gresik (PG) serius menggarap bisnis pupuk nonsubsidi atau pupuk komersial untuk pasar ritel. Pertimbangannya, potensi pasar pupuk NPK di Indonesia begitu besar.

Merujuk data Asosiasi Perusahaan Pupuk Indonesia, kebutuhan di sektor pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat mencapai 6,6 juta ton dengan pertumbuhan kebutuhan 6,53 persen per tahun.

Dirut PG Nugroho Christijanto menyatakan, dengan fokus menggarap pupuk nonsubsidi, pihaknya bisa mengurangi ketergantungan pada pasar pupuk bersubsidi. ’’Kami tidak tahu sampai kapan ada pupuk subsidi, makanya perlahan garap nonsubsidi. Kami optimistis bisa merebut pasar,’’ katanya di sela peluncuran NPK Phonska Plus di Gresik pada Kamis (5/1).

Pupuk komersial yang diluncurkan tersebut khusus digunakan untuk tanaman pangan. Besarnya potensi kebutuhan pupuk NPK di lahan pertanian pangan terlihat dari rendahnya alokasi pupuk NPK bersubsidi pada dua tahun terakhir. Alokasi pupuk yang tercantum pada Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) No 130 Tahun 2014 dan Permentan 60 Tahun 2014 hanya 2,5 juta ton.

’’Kami memberikan alternatif pilihan kepada petani selaku konsumen. Ada daerah yang sensitif terhadap masalah ketersediaan pupuk sehingga harga tidak menjadi persoalan,’’ ucap Nugroho.

Produksi pupuk NPK nonsubsidi itu bukan kali pertama di PG. Perusahaan pelat merah tersebut pernah memproduksi beragam pupuk majemuk nonsubsidi dengan berbagai formulasi. Produknya spesifik untuk komoditas tertentu seperti kelapa sawit dan tembakau.

Total pemesanan NPK Phonska Plus telah mencapai 15 ribu ton dari berbagai wilayah di Indonesia. Yang membedakan NPK Phonska Plus dengan bersubsidi ialah unsur hara mikro zink (zat besi).

Hasil riset International Fertilizer Association (IFA) menyebutkan, separo kondisi lahan pertanian dunia mengalami defisiensi unsur hara mikro zink (Zn) yang cukup signifikan. Indonesia mengalami defisiensi paling parah.

PG juga melakukan 772 demonstration plot (demplot) padi di 95 kabupaten (8 provinsi) selama 2015–2016. Hasil demplot menunjukkan rata-rata peningkatan panen 0,85 ton gabah kering panen per hektare atau naik 12 persen jika dibandingkan dengan hasil aplikasi pemupukan petani setempat.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (PI) Aas Asikin Idat menuturkan, potensi pasar untuk produk pupuk di dalam negeri begitu besar. Apalagi sejalan dengan program swasembada pangan yang digenjot pemerintah. ’’Program pupuk subsidi tidak bisa dipastikan akan terus ada, makanya bertahap fokus menggarap pupuk nonsubsidi,’’ jelasnya. (res/c20/noe/JPG)


TOPIK BERITA TERKAIT: # 

Berita Terkait

Target PAD Reklame Tak Tercapai

Megapolitan

Mabes Polri: Situasi Sudah Terkendali

Headline

Martir (Hidup) Itu Bernama Novel Baswedan

Opini

Asyik, Ariel Tatum Balikan Lagi Sama Mantan

Indotainment

IKLAN