Nasional

Daerah Mulai Bersiap Sambut Musim Kemarau

Redaktur: Wahyu Sakti Awan
Daerah Mulai Bersiap Sambut Musim Kemarau - Nasional

ANTISIPASI: Kebakaran hutan di daerah. Foto: dok JPNN

INDOPOS.CO.ID– Sejumlah daerah mulai bersiap menyambut musim kemarau 2017. Khuusnya, daerah yang berdekatan dnegan garis khatulistiwa. Tahun ini, musim kemarau diprediksi lebih kering, sehingga potensi kebakaran juga meningkat. Pemerintah masih mengandalkan restorasi gambut dan pembuatan sumur bor juntuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menjelaskan, pada akhir Januari sejumlah daerah akan mulai memasuki musim kemarau. ’’Daerah seperti Riau, Sumsel, Jambi, itu punya karakter musim kemarau dua kali. Januari sampai april, kemudian Juni sampai Oktober,’’ terangnya di kompleks Istana Kepresidenan kemarin (11/1). Di antara kedua kemarau itu akan ada musim hujan pada Mei mendatang.

Siti menuturkan, sejak akhir Desember lalu pihaknya sudah mulai memantau kembali sejumlah kawasan yang rawan kebakaran. Pada 31 Desemberapi muncul di Kalteng. Kemudian, 2 Januari muncul di Pontianak dan terakhir 8 Januari lalu di Dharmasraya, Sumbar. ’’Yang di Dharmasraya itu sampai sekarang belum mati karena daerahnya terjal dan sulit,’’ ujarnya. Seain itu, air pun sulit diapatkan.

Saat ini tim di lapangan mengerahkan sejumlah helikopter untuk mengangkut air. Yang jelas, setiap kali muncul api, meskipun kecil, langsung ditangani agar tidak membesar. ’’Yang satya syukuri itu, saat ini koordinasi antardaerah makin bagus,’’ lanjutnya. Pihaknya akan lebih waspada karena berdasarkan prediksi BMKG, kemarau tahun ini akan lebih kering ketimbang 2016.

Pemerintah sampai saat ini mengandalkan restorasi gambut dan sumur bor. KLHK sudah menetapkan, untuk kawasan gambut, jarak antara air dalam tanah dengan permukaan tanah tidak boleh lebih dari 40 cm. bila tidak, lahan bakal semakin kering dan rawan terbakar. Untuk setahun ke depan, pihaknya bakal merapikan kanal-kanal gambut untuk menyimpan lebih banyak stok air dalam tanah.

Dua tahun belakangan, restorasi gambut membuahkan hasil signifikan. Sebagai perbandingan, pada 2015 lahan gambut yang terbakar mencapai 891.275 hektare. Pada 2016, luasan lahan gambut yang terbakat turun drastis menjadi 97.787 hektare. Dari luasan tersbeut, 19.068 hektare di antaranya merupakan lahan yang terbakar sejak 2015.

Sementara itu KEpala Badan Restorasi Gambut Nazir Fuad menjelaskan, pihaknya tidak hanya memperbaiki kanal-kanal gambut. Namun, juga membangun sumur-sumur Bor. ’’Sudah 500 lebih sumur bor yang kami bangun,’’ terangnya. Sumur bor itu disambut antusias oleh masyarakat karena mempermudah proses pemadaman kebakaran.

Sebagai [pwrbandingan, sebelum ada sumur bor, untuk memadamkan sattu area butuh 1-2 hari. ’’Tapi dengan sumur bor bisa padam dalam waktu 1,5 jam,’’ lanjutnya. Sbab, jarak sumur bor lebih dekat dengan lokasi kebakaran. Satu sumur bor bisa digunakan untuk area seluas kurang lebih 12,5hektare, bergantung pada ketersediaan air tanah. (byu/JPG)               

 

               

 

 

Berita Terkait

Megapolitan / Kekeringan Mulai Landa Kota Depok

Jakarta Raya / Kemarau, Kualitas Air Jakarta Memburuk

Megapolitan / Kemarau, Warga Cibarusah Andalkan Kali Cipamingkis

Nusantara / Awal Musim Kemarau, Pacitan Mulai Kekeringan

Nasional / Musim Kemarau di Bulan Ramadan, BMKG Beri Imbauan


Baca Juga !.