Rabu, 19 September 2018 12:47 WIB
pmk

Ekonomi

Waspada, Manipulasi Pasar Mengintai

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Otoritas pasar modal Indonesia telah melakukan penguatan infrastruktur untuk mendongkrak transaksi. Itu dilakukan juga untuk keamanan dan menarik minat investor masuk pasar modal. Namun, kondisi itu tidak menggaransi lalulintas pasar modal bebas 100 persen dari tindak kejahatan dengan beragam modus.

Sebab, jamak diketahui, kecanggihan sebuah teknologi juga tidak luput dari celah. Pelaku penipuan, insider trading, dan manipusi pasar juga tidak kehilangan akal. Beragam modus bisa dilakukan untuk mendapat untung mendadak meski harus melabrak etika dan undang-undang pasar modal. Karena itu, otoritas pasar tidak pernah lelah melakukan edukasi, monitoring, himbauan dan peringatan kepada pelaku pasar, untuk tetap waspada.

Secara mekanisme, otoritas pasar melakukan pengawasan melekat terhadap arus transaksi. Memberikan petunjuk dan himbauan kepada investor untuk berhati-hati. Tindakan hati-hati misalnya disuarakan dengan memberikan status pergerakan saham di luar kebiasaan atau unsual market activity (UMA). Di mana, sepanjang tahun lalu, jumlah saham UMA terakumulai 128 kali, meningkat dibanding 2015 60 kali dan edisi 2014 sebanyak 92 kali.

Selanjutnya, posisi suspensi mengalami peningkatan cukup tajam menjadi 55 kali, dari posisi 2015 di kisaran 32 kali dan pada periode 2014 sebanyak 55 kali suspensi. Meski begitu, peningkatan UMA dan suspensi itu dinilai masih wajar kala jumlah transaksi di pasar modal melonjak. Berdasar data bursa, transaksi dan volume perdagangan saham harian mengalami peningkatan 30 persen tahun lalus. ”Tentu itu masih dalam taraf wajar,” tutur D‎irektur Pengawasan dan Transaksi BEI Hamdi Hassyarbaini.

Hamdi menyebut, saham dengan label UMA tidak serta merta telah terjadi manipulasi, insider trading dan penipuan lainnya. UMA diberikan hanya sebatas pemberian informasi kepada investor untuk mencermati gerakan saham bersangkutan secara saksama. Begitu pun, kalau saham disuspen tidak langsung divonis terjadi manipulasi. ”Modusnya sih banyak. Tetapi, perlu penyelidikan, penyidikan hingga meningkat pada pembuktian. Dan, selama ini, belum ada kasus insider trading,” ucap Hamdi.

Manipulasi pasar sebut Hamdi, terjadi dengan beragam modus operandi. Contoh lawas kasus ini menerpa PT Agis Tbk (TMPI) bertransformasi menjadi Sigmagold Inti Perkasa mengalami fluktuasi secara liar. Di mana dalam tempo setahun (September 2006-Agustus 2007), harga saham Agis menanjak 981,4 persen.

Pada 16 Agustus 2006, Bhakti Investama (menguasai 40,8 persen saham Agis), melepas seluruh kepemilikan saham pada banderol Rp 200 per lembar. Efek pelepasan itu, rata-rata transaksi harian Agis kala itu mencapai 140 juta saham. Hanya dalam durasi 5 bulan, harga saham Agis melesat ke posisi Rp 2.725 per saham pada 25 Mei 2007, atau menanjak 1.111 persen dari posisi 2 Januari 2007 di kisaran Rp 225 per lembar.

Fluktuasi harga itu menyusul rencana akuisisi PT Akira Indonesia dan PT TT Indonesia serta rencana merger dengan PT E-Solution. Tidak hanya itu, perusahaan juga akan melakukan stock split dengan rasio 1:4 dan bakal bersinergi dengan PT Metrodata Electronics, dan tidak kalah penting juga bakal mengembangkan teknologi informasi di bidang telekomunikasi.

Aksi itu, memantik reaksi positif pelaku pasar. Saham perusahaan pada 4 Juni 2007 terkerek ke posisi Rp 3.925 per lembar, menguat 1.726 persen dari posisi  Rp 215 per saham di penghujung 2006. Tidak berhenti disitu, lonjakan harga saham perusahaan semakin menggila ke posisi Rp 4.650 per saham. Itu terjadi saat perusahaan memproyeksi penjualan sepanjang 2007 di kisaran Rp 1 triliun.

Padahal, sepanjang 2006 lalu, saham emiten itu tergolong tidak likuid dan termasuk saham tidur dengan kisaran harga Rp 80-100 per saham hingga Agustus 2006. Secara fundamental, kinerja juga kurang imfresif. Di mana, penjualan akhir 2006 hanya mencapai Rp 342,73 miliar dan laba Rp 10,74 miliar.

Pada 5 Juni 2007, harga saham perusahaan tiba-tiba menukik tajam satu jam menjelang penutupan perdagangan. Kejatuhan saham perusahaan membuat panik pelaku pasar. Efeknya, saham perusahaan ditutup dengan defisit 24,84 persen menjadi Rp 2.950 per lembar dari hari sebelumnya Rp 3.925 per saham.

Bursa Efek Jakarta (BEJ) kala itu mengambil tindakan dengan menghentikan saham perusahaan di pasar regular dan tunai. Tetapi, saat suspensi dibuka pada 13 Juni 2007, saham perusahaan kembali melorot menjadi Rp 2.275 per saham. Selanjutnya, pada 21 Juni saham Agis kembali berayun kencang dan menanjak ke posisi Rp 3.400 per lembar. Dan, pada 27 Juni 2007 kembali saham perusahaan terpuruk ke posisi Rp 2.325 per lembar.

Atas peristiwa itu, otoritas pasar mengambil tindakan dengan melakukan investigasi. Hasilnya, terdapat 16 broker berjasa atas fluktuasi saham Agis. Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) kala itu mendapati fakta kalau Agis telah memberikan informasi material tidak benar ke publik tentang rencana aksi korporasi. (far)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #indeks 

Berita Terkait

IKLAN