Selasa, 16 Oktober 2018 04:44 WIB
pmk

Internasional

Obama Yakin Trump Tidak Gegabah

Redaktur:

ERA BARU: Presiden Amerika Serikat terpilih, Donald Trump, dan Barack Obama. Bersama pasangan masing-masing, keduanya bersiap menuju Capitol Hill untuk inaugurasi pelantikan presiden.

INDOPOS.CO.ID - Presiden terpilih Amerika Serikat Donald Trump resmi dilantik kemarin siang waktu setempat atau tengah malam tadi WIB. Indonesia pun mulai bersiap-siap mengantisipasi kemungkinan kebijakan yang bakal diambil Trump. Sejauh ini, Trump diyakini bakal mengingkari janji kampanyenya.
            
Keyakinan itu disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla saat sesi pertemuan dengan wartawan di kantornya kemarin (20/1). JK mengakui, kampanye Trump sangat perfeksionis dan nasionalistis, menjaga betul kepentingan AS. Menurut dia, itu merupakan hal ideal yang seharusnya dilakukan semua presiden.

Namun, dia mengingatkan bahwa AS menganut sistem ekonomi liberal selama bertahun-tahun. Hal itu akan menjadi tantangan besar saat menjabat presiden. ’’Saya yakin apa yang dikampanyekan itu, tidak akan mudah diterapkan sendiri di Amerika 100 persen,’’ tuturnya.

Sebagai contoh, JK mengutip rencana trump mengenakan bea masuk 45 persen untuk produk-produk asal Tiongkok. Bila benar-benar diterapkan, kebijakan itu akan menjadi blunder. Bagaimana tidak, selama ini barang berlabel made in China terlanjur membanjiri swalayan-swalayan di AS. Kebijakan itu akan sulit diterapkan.

’’Yang pertama protes pasti orang Amerika sendiri,’’ lanjutnya. Bea masuk yang tinggi akan mengerek harga-harga komoditas asal Tiongkok. Harga barang di AS akan lebih mahal dibandingkan negara-negara lain. Alhasil, daya beli konsumen akan menurun.

Pengamat Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah mengatakan bahwa bahasa yang digunakan Trump saat kampanye kesannya garang serta menggurui pihak lain agar mengikuti cara pandangnya. Trump juga terkesan serba cepat dan sangat menbghargai output tanpa melihat bagaimana prosesnya. ’’Namun, ketika sudah mulai bertugas nanti, Trump akan sadar dengan sendirinya bahwa dunia tidak sesederhana yang dipikirkannya,’’ ungkap Teuku.

Trump, lanjut Teuku akan mulai melihat betapa kompleksnya dunia. Saat itu, dia akan secara perlahan belajar. ’’Apalagi CIA sudah mengingatkan dia agar berhati-hati dalam berbicara. Trump pun akan mulai ngerem secara perlahan. Akan terjadi proses pembelajaran dari seorang Donald Trump,’’ ujarnya.

Mengenai dampak kebijakan Trump di Indonesia JK belum bisa banyak memprediksi. Hanya saja, menurut dia Indonesia kemungkinan akan terkena dampak tidak langsung. Dalam hal bea masuk tinggi untuk produk Tiongkok misalnya, negeri panda akan merasakan dampaknya terlebih dahulu.

Ekspor Tiongkok akan menurun. Ketika ekspor Tiongkok menurun, dampaknya akan terasa sampai ke Indonesia. Sebab, dengan demikian impor bahan baku dari Indonesia juga akan ikut turun. Perdagangan dunia juga berpotensi rusak bila kebijakan proteksionis itu dilakukan.

JK masih yakin, sebagai orang lama di dunia usaha,Trump tidak akan gegabah mengambil kebijakan. Khususnya, kebijakan ekonomi. Mungkin ada beberapa sektor yang akan diproteksi, namun tidak mungkin menyeluruh. ’’Kita tunggu lah,’’ tambahnya.
 
Teuku menilai kebiajakan Trump tidak akan secara langsung memberikan dampak buruk kepada Indonesia mengingat sebagai pengusaha, Trump sudah berinvestasi cukup besar di Indonesia. Teuku juga menyebut Trump akan punya perhatian khusus pada hubungan bilateral Indonesia-Amerika.

’’Trump punya aset di Indonesia. Ada di Lido dan Kuta. Tampaknya Indonesia akan jadi perhatian tersendiri. Kalau Obama punya romantisme masa kecil, Trump punya romantisme masa depan dengan Indonesia,’’ ungkap Teuku.

Terkait dengan kebijakan politik luar negeri Indonesia setelah Trump resmi dilantik jadi presiden, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir menurutkan hingga sekarang, Indonesia masih belum menentukan kebijakan yang akan diambil. ’’Tentunya kita harus melihat kebijakan yang akan mereka ambil sebelum merespons,’’ ucapnya.

Ketua DPR Setya Novanto menyatakan, dilantiknya Trump menjadi Presiden Amerika Serikat akan membawa angin segar bagi Indonesia. Salah satunya di bidang ekonomi. Menurut dia, Trump merupakan seorang pengusaha. Sebelum menjadi presiden, dia sudah melirik Indonesia sebagai tempat menanam investasi. Kerjasama Indonesia dengan Amerika akan semakin baik.

Setnov, panggilan akrab Setya Novanto menyatakan, sebelumnya Presiden Joko Widodo juga sudah beberapakali berkunjung ke Amerika dan mengajak para investor untuk berinvestasi di Indonesia. Salah satu bidang investasi adalah infrastruktur. Masih terbuka lebar peluang investasi di Indonesia. ’’Trump sangat tertarik investasi di Indonesia,’’ terang Ketua DPP Partai Golkar itu.

Tentu presiden baru Amerika itu akan memberikan perhatian terhadap negara ini, karena Indonesia merupakan negara dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sehingga, kata dia, posisinya sangat penting bagi Amerika. 

Pendapat berbeda disampaikan Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah. Menurut dia, semua orang tidak punya pandangan pasti terhadap Trump. ’’Trump merupakan Presiden Amerika yang paling kontroversial,’’ terang dia saat ditemui di gedung Parlemen, Senayan kemarin (20/1). 

Dalam masa penantian untuk dilantik, terang dia, biasanya presiden lebih memilih diam 
Namun, lain dengan Trump. Dia malah sangat aktif di twitter dan mengajak perang. Jadi, semua kepala negara selalu sibuk mengecek twitter Trump untuk mengetahui perkembangan dan sikap presiden baru itu. 

Legislator asal Sumbawa itu menyatakan, saat ini di dalam negeri Amerika sendiri sedang bergejolak. Banyak masyarakat yang melakukan demonstrasi. Menurut dia, ini satu-satunya Presiden Amerika yang didemo setelah terpilih dan ketika akan dilantik. ’’Banyak teori menyatakan, dia pragmatis sebagai pedagang. Kita lihat saja nanti,’’ tutur dia.

Terkait dengan kebijakan ekonomi, Fahri menyatakan, Trump akan lebih pro pada produk dalam negerinya sendiri. Ketika dia butuh uang, suku bunga The Fed akan dinaikkan. Supaya uang dari luar masuk lagi ke Amerika. Selanjutnya harga Dolar akan tinggi. ’’Kalau Dolar tinggi, alat pembayaran kita di perdagangan luar negeri akan sulit,’’ terangnya. (byu/and/lum)


TOPIK BERITA TERKAIT: #donald-trump #barack-obama 

Berita Terkait

Trump Cari Pengganti Haley

Internasional

Trump Plinplan Sikapi Konflik Israel-Palestina

Internasional

Maduro Ingatkan Trump Jangan Main-Main dengan Istrinya

Internasional

Iran Sebut Nuklir Israel Ancaman Dunia

Internasional

Dikritik Keras Obama, Trump Ngantuk

Internasional

IKLAN