Selasa, 11 Desember 2018 12:10 WIB

Moto GP

Lebih Tenang dengan Big Bang

Redaktur:

Bintang Repsol Honda Marc Marquez

INDOPOS.CO.ID- Januari 2017 ini, terasa terlalu lama hanya untuk menanti dimulainya uji coba pra musim pertama MotoGP 2017 di Sepang, Malaysia akhir bulan ini. Para fans balapan kelas premium sudah tidak sabar menyaksikan performa motor baru yang dibesut rider-rider baru. Meski tak banyak informasi mengenai  kekuatan tim-tim di musim 2017, bocoran mengenai pengembangan motor mereka sudah mulai terungkap.

Tidak akan ada perubaan regulasi besar musim ini. Pengembangan motor juga bisa lebih fokus karena masa transisi pergantian pemasok ban dari Bridgestone ke Michelin seharusnya sudah lewat. Pabrikan ban asal Prancis itu tentu sudah memiliki data cukup banyak untuk tidak lagi mengganti-ganti spesifikasi si karet bundar di setiap balapan.

Setelah masalah ban dianggap selesai, seluruh tim pabrikan kompak menyatakan bahwa fokus pengembangan motor mereka adalah memperbaiki kemampuan motor untuk dibawa belok dan juga performa saat keluar tikungan. Tantangan baru datang lantaran peranti aerodinamika yang kerap disebut winglet menjadi barang terlarang musim ini.

Untuk itu tahun ini Honda mengubah konspep mesin mereka menjadi pembakaran “big-bang”. Perbedaan keduanya terletak pada jeda pembakaran di setiap silinder mesin. Pada mesin “screamer” pembakaran memiliki jeda waktu yang sama di setiap silinder. Maka dibutuhkan 720 derajat perputaran crankshaft, karena proses pengapian setiap silinder terjadi saat crankshaft berputar 180 derajat.

Sedangkan konsep “big bang” lebih sederhana. Jeda pengapian tiap silindernya lebih singkat. Sehingga piston memiliki waktu istirahat sebelum pengapian berikutnya. Di MotoGP, diprediksi hanya butuh 90 derajat perputaran crankshaft untuk pengapian di empat silinder. Mesin big bang memberikan waktu bagi ban belakang waktu untuk mengcengkram trek kembali karena transfer tenaga tidak berjalan lebih halus. Dengan Honda mengganti konsep mesinnya menjadi big bang, kini hanya KTM yang bertahan dengan mesin screamer.

Dengan mesin big bang, Honda berharap masalah wheelspin saat tuas gas dibuka untuk kali pertama bisa direduksi. Begitu pula wheelie (roda depan terangkat) ketika keluar tikungan. Sebenarnya kontrol wheelie sudah ada, tapi tak cukup untuk mengimbangi power mesin Honda yang menghentak.

Sebenarnya Honda-lah yang memperkenalkan big bang ke GP di awal 1990-an. Atau 20 tahun ketika mekanik legendaris HRC Youichi Uguma menemukannya saat membangun motor CB175 dua silinder untuk kepentingan off road.

Bintang Repsol Honda Marc Marquez berpendapat perubahan konsep mesin ini adalah langkah yang tepat. Karena yang diinginkannya dari motor 2017 adalah performa lebih baik saat motor keluar tikungan. Sang juara bertahan itu juga akan bertahan dengan chassis 2014 yang memberinya rasa percaya lebih ketimbang saat menggunakan rangka 2015 dan 2016. (cak)


TOPIK BERITA TERKAIT: #motogp #totalsport 

Berita Terkait

Tak Alami Juara Dunia

Total Sport

Berteman Baik Di Luar Lapangan

Total Sport

Marc Marquez Juarai MotoGP 2018

Headline

IKLAN