Selasa, 20 November 2018 03:15 WIB
pmk

Kata BI, Pertumbuhan 5,02 Persen Sudah Baik

Redaktur: Wahyu Sakti Awan

ILUSTRASI

INDOPOS.CO.ID-Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai, pertumbuhan ekonomi 5,02 persen sebagai capaian yang baik. Dia mengatakan, berada di angka 5 persen saja sudah menunjukkan capaian positif. ”Kita ingat pada 2015 lalu 4,88 persen,” tuturnya kemarin.

Dia menyatakan, pemangkasan anggaran memang menjadi salah satu tantangan. Kendati demikian, dari segi konsumsi, pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif baik. Ada perbaikan dari segi ekspor dan investasi, terutama ke sektor infrastruktur.

Dari sisi BI, asumsi pertumbuhan tahun ini 5–5,4 persen. Dia optimistis atas proyeksi tersebut. ”Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi 2017, itu sudah baik,” ungkapnya. Belum lagi dukungan ekspor yang terus tunbuh. Menurut dia, harga komoditas ekspor sudah merangkak naik setelah lima tahun sebelumnya menurun.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengakui, konsumsi pemerintah yang negatif itu tidak lepas dari kondisi APBN 2016. ”Memang APBN kita banyak dikoreksi sejak kuartal ketiga,” timpal Darmin. Meski demikian, bagi Darmin angka 5,02 persen itu sudah merupakan sinyal positif walaupun di luar ekspektasi.

Hal senada disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Dia menjelaskan, momentum pertumbuhan ekonomi masih terjaga. Mengingat selama 2016 pemerintah beberapa kali harus mengurangi belanja gara-gara penerimaan pajak meleset dari target.

Dia menuturkan, ada beberapa hal yang terjadi selama kuartal keempat 2016. Di antaranya, ekspor dan impor sudah positif. ”Selama ini ekspor-impor selalu negative growth (pertumbuhannya negative, Red). Sekarang sudah positif,” terangnya. Begitu pula sektor pertambangan yang mulai positif. Padahal, sebelumnya kedua sektor termasuk yang membebani APBN.

Menurut dia, tahun ini ada beberapa hal yang perlu dijaga. Misalnya sektor pertanian dan tingkat konsumsi masyarakat. Secara keseluruhan, tingkat konsumsi masyarakat masih tumbuh di atas 5 persen. ”Ini juga karena inflasi yang rendah dan terjaganya daya beli masyarakat,” lanjut mantan managing director Bank Dunia itu. Tingkat konfidensi konsumen pun harus terus dijaga. Investasi juga harus terus digenjot.

Saat disinggung mengenai kemampuan belanja pemerintah, Sri Mulyani menyatakan bahwa defisit 2,46 persen masih bisa ditoleransi, bahkan menjadi stimulus. Tahun ini defsit APBN diperkirakan 2,41 persen dan tingkat konsumsi akan terus dijaga. Bila ingin pertumbuhan lebih tinggi, mau tidak mau investasi harus ditambah. Tentu sembari berharap tidak ada gangguan dari perekonomian global.(ken/mia/byu/rin/c11/oki/JPG)

 


TOPIK BERITA TERKAIT: #pertumbuhan-ekonomi #bank-indonesia 

Berita Terkait

Cegah Melemah, Transaksi Pakai Rupiah

Nasional

Pelatihan Wirausaha Muda Dorong Pertumbuhan Ekonomi

Nasional

IKLAN